Jangan Sepelekan Talasemia, Saatnya Anda Kenali Penyakit ini!

Scroll down to content

Provinsi Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir ini cukup berduka, karena banyak di antara penduduknya yang menderita talasemia. Lalu, sebenarnya apa dan bagaimana penyakit tersebut bisa terjadi? Di Indonesia angka yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan ada sekitar 9000 orang yang mengidap penyakit ini, sebagian besar di antaranya sekitar 40 persen berasal dari Jawa barat. Angka tersebut bahkan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Penyakit ini adalah kelainan darah yang umumnya diturunkan oleh orang tua kepada buah hati mereka, dan akan terus berlanjut dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena mutasi gen di tubuh, sehingga menyebabkan produksi hemoglobin mengalami penurunan, akibatnya penderita dari talasemia ini nantinya akan mengalami gejala anemia atau kekurangan sel-sel darah merah. Penyakit ini tidak bisa diremehkan karena bisa jadi secara tidak sadar orang yang menderita talasemia ini menikah dengan orang normal, namun nantinya akan menurun kepada anak mereka.

Penderita dari penyakit talasemia ini tidak akan bisa disembuhkan, lalu bagaimana solusi untuk mengatasinya? Tidak lain adalah dengan menjalani transfusi darah secara teratur untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berbahaya dengan penyakit-penyakit lainnya, seperti masalah ginjal, pembengkakan hati, dan organ limpa. Ada dua jenis talasemia yang wajib untuk diketahui, di antaranya adalah talasemia alfa dan talasemia beta.

Berikut ini beberapa jenis risiko berbahaya yang sangat mungkin dialami oleh penderita penyakit talasemia ini adalah:

  1. Kelebihan zat besi di dalam darah, zat besi memang memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh untuk memproduksi sel-sel darah merah. Namun kelebihan jumlahnya juga berbahaya, karena dapat memicu kerusakan jantung, endocrine, hingga hati penderitanya.
  2. Infeksi, penderita talasemia juga memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terkena infeksi dengan penyakit yang lainnya. Apalagi jika penderitanya sudah mengalami pengangkatan limpa sebelumnya.
  3. Deformitas tulang, apa itu? Karena kelebihan zat besi yang ada dalam tubuh akan memengaruhi produksi darah, hal ini juga berdampak pada penebalan atau perluasan tulang sum-sum sebagai tempat pembentukan sel-sel darah merah. Sehingga akan tampak struktur tulang yang tidak normal pada penderitanya, hal ini membuat tubuh tidak terlihat normal. Selain itu, pelebaran yang terjadi pada tulang ini juga akan membuatnya lebih pipih serta rapuh.
  4. Splenomegali atau pembesaran limpa. Penyakit ini akan menyebabkan limpa mengalami kerusakan karena dipaksa untuk bekerja terlalu keras dalam melawan infeksi atau bakteri yang menyerang tubuh, sehingga membuatnya mengalami pembengkakan. Splenomegali ini nyatanya juga dapat mengurangi usia dari sel-sel darah merah yang diproduksi oleh tubuh atau yang ditransfusi dari luar.
  5. Pertumbuhan tubuh menjadi lambat. Anak yang mengalami pertumbuhan tubuh yang lambat, hingga bahkan abnormal, biasanya menjadi pertanda terkena talasemia.
  6. Memicu masalah jantung. Jantung juga menjadi organ yang nantinya akan terkena imbas dari penyakit yang satu ini, seperti iramanya yang menjadi tidak stabil, hingga gagal jantung pada kasus yang lebih parah.

Bahkan pada tahun 2018 lalu, seorang bocah 10 tahun, Anjani, yang menderita penyakit ini menggalang bantuan, yaitu ‘Setetes Darah untuk Anjani’. Hal ini ia lakukan karena memang penderitanya benar-benar membutuhkan bantuan donor darah secara rutin, untuk terus melanjutkan hidup. Penyakit ini bukan sesuatu yang bisa disepelekan, karena semakin lama jumlah penderitanya juga semakin meningkat, diimbangi dengan angka kematian yang disebabkannya.

 

Sumber Foto: MedClique.org

%d blogger menyukai ini: