Potret Malang Darma, Bayi Kecil Penderita Hidrosefalus

Scroll down to content

Malang benar nasib Darma. Di usianya yang masih tiga bulan, bayi berjenis kelamin pria ini harus berjuang melawan penyakit hidrosefalus. Penderitaan bayi malang tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak ia berumur satu setengah bulan. Ditandai dengan perubahan ukuran kepala dan kesulitan bernafas. Seiring waktu, ukuran kepala bayi malang tersebut kian membesar. Kedua bola matanya pun seperti tampak keluar. Dilansir pedulisehat.id, Selasa (18/6/2019), bocah malang tersebut masih berharap untuk bisa sembuh. Hidrosefalus berasal dari bahasa Yunani, “hydro” yang berarti air dan “cephalus” yang berarti kepala. Dokter spesialis anak, dr. Meirdania Andina, Sp.A, M.Kes menjelaskan, secara medis hidrosefalus adalah gangguan pada sistem saraf pusat berupa kelebihan cairan serebrospinal. “Kelebihan tersebut bisa terjadi, baik di sistem ventrikel maupun ruang subarachnoid,” ujar Meirdania lewat wawancara via email dengan Kompas.com, Selasa (1/10/2019). Sebagai informasi, cairan serebrospinal merupakan cairan bening yang berada di sekeliling otak dan susunan saraf tulang belakang. Sementara itu, ruang subarachnoid adalah ruang antara dua lapisan membran yang membungkus otak. Akibat kelebihan cairan tersebut terjadi peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (intracranial) yang dapat mengancam nyawa penderitanya.

Sekalipun penderita hidrosefalus hidup, kelainan kongenital (cacat lahir) tersebut kelak mengakibatkan penurunan kualitas hidup anak. Penurunan yang dimaksud meliputi kemampuan intelektual, defisit motorik, dan kesulitan perilaku sehingga memengaruhi kualitas hidup anak yang terbawa hingga dewasa. Risiko hidrosefalus sendiri sebenarnya dapat terjadi pada masa prenatal (sebelum kehamilan) dan perinatal (saat kehamilan). Pada masa kehamilan, biasanya disebabkan karena sang ibu terinfeksi toxoplasmosis (toksoplasma), virus yang berasal dari parasit Toxoplasma gondii. Kompas, Rabu (10/7/2013) menyebutkan, parasit toksoplasma kerap ditemukan pada kotoran kucing dan anjing. Penyebarannya bisa terjadi lewat hewan lain seperti domba atau sapi yang memakan rumput dari tanah yang terkontaminasi virus tersebut. Sementara itu, penularan virus toksoplasma pada manusia terjadi akibat mengonsumsi makanan mentah atau daging yang kurang matang. Sebagai pencegahan, sebelum menikah dan merencanakan kehamilan, ada baiknya wanita melakukan rangkaian pemeriksaan TORCH. Adapun, TORCH merupakan istilah untuk menyebut empat jenis penyakit infeksi, yaitu toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus (CMV) dan herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2). Perlu diketahui wanita hamil yang terinfeksi TORCH berisiko mengalami keguguran. Sekalipun bayi lahir, maka akan terlahir dalam kondisi cacat. Tak hanya itu, vaksin Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT), Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), dan Mumps, Measles, and Rubella (MMR) diperlukan. Sebab, dikutip Kompas, Minggu (27/8/2017), ketiga vaksin tersebut dapat mencegah infeksi virus tetanus, rubella, dan meningitis yang berpotensi diturunkan pada anak.

Gejala hidrosefalus dan penanganannya

Lebih lanjut Meirdania kembali menuturkan, hidrosefalus, baik pada bayi maupun anak, ditandai dengan gejala yang hampir sama. “Pada neonatus (bayi baru lahir) ditandai dengan iritasi, tidak mau minum, kesadaran menurun, hingga muntah,” katanya. Sementara itu, lanjutnya, pada anak di bawah enam tahun ditunjukkan dengan gejala nyeri kepala, muntah proyektil (muntah menyembur), diplopia (penglihatan ganda), gangguan motorik, daya ingat, dan menurunnya proses belajar. Untuk pengobatan, baik bayi maupun anak penderita hidrosefalus, umumnya akan diberikan tindakan operasi ventriculoperitoneal (VP) shunt. Tindakan tersebut dilakukan dengan menempatkan selang fleksibel yang disebut shunt, ke otak. Tujuannya untuk mengurangi produksi dan mengeluarkan cairan serebrospinal yang ada di otak penderita. Umumnya, selang tersebut akan dibiarkan di otak seumur hidup dan perlu diganti apabila shunt tersumbat atau terinfeksi. Tindakan operasi seperti itu yang diambil Yeni (30), orangtua dari Darma, bayi malang penderita hidrosefalus di atas. Memang, berkat operasi tersebut lingkar kepala Darma sedikit mengecil. Dari yang awalnya 83 sentimeter menjadi 73 sentimeter. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perawatan pasca operasi mengalami kendala. Selang yang selama ini terpasang di kepala Darma rusak. Akibatnya, volume cairan penyebab hidrosefalus kembali meningkat. Kepala bayi tersebut kembali mengalami pembengkakan. Sebagai orangtua, Yeni sudah melakukan berbagai upaya. Sayangnya, semua itu terbentur biaya, sementara kondisi Darma semakin melemah. Yeni kini hanya bisa berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Bahkan bukan hanya Yeni, sebenarnya di luar sana juga ada banyak ibu yang berjuang menyelamatkan anaknya dari hidrosefalus. Pasalnya, jumlah insiden hidrosefalus di Indonesia terjadi 10 permil, artinya ada 10 kasus hidrosefalus terjadi di setiap 1000 kelahiran. Penderitaan tak hanya dirasakan pasien, tapi juga keluarga. Beban mereka pun semakin bertambah lantaran penanganan hidrosefalus membutuhkan banyak tindakan dengan biaya yang tidak sedikit. Guna meringankan beban para penderita hidrosefalus tersebut, pedulisehat.id hadir. Sekadar informasi, pedulisehat.id adalah platform donasi yang berkonsentrasi pada masalah kesehatan. Platform tersebut terdiri dari situs resmi http://pedulisehat.id dan aplikasi yang dapat diunduh di smartphone melalui Google Play Store (khusus Android). Sebagai media penyalur donasi, pedulisehat.id memiliki tiga fungsi utama. Pertama, meringankan beban finansial para pasien yang sedang berjuang melawan penyakit kritis. Kedua, sebagai jembatan masyarakat untuk berdonasi atau menjadi donatur dalam melakukan penggalangan dana dengan cara mudah dan praktis. Terakhir, mempermudah pemberian donasi kepada pasien yang membutuhkan secara cepat dan transparan. Mari berikan uluran tangan Anda di sini https://pedulisehat.id/searchResaults.html?search=hidrosefalus&from=campaignList, agar Darma dan para penderita hidrosefalus lainnya dapat melanjutkan kehidupan mereka.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Potret Malang Darma, Bayi Kecil Penderita Hidrosefalus”, https://nasional.kompas.com/read/2019/10/21/12320221/potret-malang-darma-bayi-kecil-penderita-hidrosefalus?page=all.
Penulis : Hotria Mariana
Editor : Mikhael Gewati

%d blogger menyukai ini: