Waspada Kelainan Jantung Truncus Arteriosus pada Anak

Scroll down to content

Truncus Arteriousus Persisten Persisten merupakan salah satu penyakit jantung bawaan ditandai dengan adanya kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir. Adanya malformasi kardiovaskuler congenital dimana hanya terdapat satu pembuluh arteri utama yang keluar dari basis jantung dan mengalirkan darah ke arteri koroner, pulmonal dan sistemik, serta hanya terdapat satu katup (Truncus) semilunar. Pada pertumbuhan janin yang normal, truncus arterioususmembelah menjadi pembuluh darah, yaitu arteri pulmonalis dan aorta. Pada kelainan jantung bawaan, pembelahan ini tidak terbentuk, sehingga truncus menjadi satu-satunya saluran yang keluar dari jantung. Keadaan inilah yang disebut sebagai Truncus Arterious Persisten.

Penyakit jantung bawaan tipe ini termasuk penyakit yang cukup fatal dan berpotensi membahayakan nyawa. Faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:

  • Genetika, yang diturunkan baik dari salah satu atau kedua orang tua, atau anggota keluarga lainnya.
  • Diabetes, potensi untuk melahirkan bayi dengan kelainan jantung, khususnya pada bagian arteri. Hal ini terjadi dikarenakan tingginya kadar insulin dalam darah yang dapat mengganggu pertumbuhan janin.
  • Alkohol, dapat menyebabkan kelainan struktur arteri atau ventriklel jantung. Biasanya terdapat pada kosmetik seperti cat dan pembersih kuku, atau pada lem serta produk lainnya, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
  • Flu, mengalami flu pada trimester pertama, dua kali lebih berisiko melahirkan bayi dengan kelainan jantung.
  • Rubella, infeksi virus Rubella berisiko membahayakan pertumbuhan janin jika dialami oleh wanita yang hamil termasuk organ jantung.
  • Merokok, kandungan rokok yang dapat mempengaruhi perkembangan janin.

Gejala pada penyakit jantung bawaan dapat terlihat atau dirasakan tergantung jenis dan berat ringannya kelainan, antara lain:

  • Mengeluarkan keringat berlebihan.
  • Mudah lelah.
  • Tidak nafsu makan dan berat badan menurun.
  • Kesulitan berolahraga atau melakukan aktivitas tertentu.
  • Detak jantung yang tidak beraturan (aritmia)
  • Napas terasa cepat dan pendek.
  • Terasa sakit pada dada.
  • Sianosis atau kulit menjadi kebiruan.
  • Kelainan bentuk ujung jari dan kuku yang dikenal dengan jari tabuh (clubbing fingers).
  • Pembengkakan pada jaringan atau organ tubuh (edema).

Pada sebagian kasus, gejala bisa tidak terlihat pada waktu bayi lahir, dan baru muncul saat mencapai usia remaja atau menjelang dewasa. Pada umunya sejak usia kehamilan di 5 minggu, dan dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan rutin menggunakan ultrasonografi (USG), dan pada 18-22 minggu, dilakukan pemeriksaan struktur anatomi jantung lebih mendalam melalui ekokardiografi janin. Dokter biasanya menyesuaikan pengobatan penyakit jantung bawaan sesuai dengan kondisi dan jenis kelainan yang dialami pasien. Jika kondisi yang dialami pasien tergolong ringan, pengobatan mungkin tidak perlu dilakukan, namun kondisi tersebut perlu dimonitor secara berkala. Bagi penderita penyakit jantung bawaan yang tergolong moderat hingga berat, beberapa cara disarankan, salah satunya khusus truncus arteriousus adalah Coarctectomy . Sebuah tindakan yang menggabungkan 2 ujung aorta setelah memotong pembuluh darah yang sempit agar aliran darah dapat kembali normal.

Meski sudah menjalani pengobatan, penderita penyakit jantung bawaan berpotensi mengalami komplikasi, seperti kesulitan berbicara, berjalan, menggerakan tubuh, berkonsentrasi, dan bertindak sampai dengan menyebabkan Stroke. Selain itu, komplikasi juga dapat menyebabkan gagal jantung. Komplikasi ini terjadi akibat jantung yang tidak mampu memompa darah ke organ tubuh lainnya.

Pengobatan yang biasanya disarankan dalah kehidupan sehari-hari, seperti pemberian obat-obatan, pengaturan pola makan, dan olahraga. Diet dan Olahraga dapat mengurangi keparahan gejala yang dialami dan menekan risiko memicu tekanan darah tinggi dan obesitas, dokter biasanya akan menyarankan penderita untuk mengonsumsi makanan rendah lemak dan melakukan aktivitas fisik secara rutin. Beberapa olahraga yang biasa disarankan adalah berenang atau jalan santai, namun hal ini akan disesuaikan dengan kondisi penyakit yang dialami pasien. Lakukan pencegahan dini penyakit jantung bawaan dengan menekan tingkat keparahannya seperti memonitor kondisi jantung secara berkala, menekan aktifitas fisik dan mental agar tidak mudah lelah.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Foto : Wikidoc

%d blogger menyukai ini: