Patent Ductus Arteriosus – Gejala, Penyebab, Pencegahan

Scroll down to content

Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah suatu kelainan berupa (pembuluh yang menghubungkan arteri pulmonalis kiri dengan aorta desendens) yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Penutupan fungsional ductus normalnya terjadi beberapa saat setelah bayi lahir. Pada bayi cukup bulan penutupan duktus secara fungsional terjadi dalam 12 jam setelah bayi lahir dan secara lengkap dalam 2 sampai 3 minggu. Duktus yang tetap terbuka setelah bayi cukup bulan berusia beberapa minggu jarang menutup secara spontan. Pada bayi prematur ada juga duktus yang baru menutup setelah  enam minggu, duktus paten biasanya mempunyai susunan anatomi yang normal dan keterbukaan  merupakan akibat imaturitas dan hipoksia.

Gejala PDA tergantung pada ukuran ductus arteriosus yang terbuka. PDA dengan bukaan kecil kadang tidak menimbulkan gejala apa pun, bahkan sampai dewasa. Sedangkan PDA dengan terbuka lebar dapat menyebabkan gagal jantung pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir. Sejumlah gejala pada PDA yang terbuka besar, antara lain:

  • Sesak napas
  • Napas tersengal-sengal
  • Jantung berdetak cepat
  • Mudah lelah
  • Tidak nafsu makan
  • Berkeringat saat makan atau menangis
  • Gangguan pertumbuhan.

Faktor penyebab PDA sampai sekarang masih belum dapat diketahui, namun sejumlah faktor diduga bisa meningkatkan risiko seorang bayi mengalami kondisi ini, di antaranya:

  • PDA dua kali lipat lebih berisiko dialami oleh bayi perempuan dibanding bayi laki-laki.
  • Infeksi Rubella pada ibu hamil dapat menyebar ke sistem pernapasan bayi, kemudian merusak jantung dan pembuluh darah.
  • PDA lebih berisiko terjadi pada bayi yang lahir di daerah dengan ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut.
  • Bayi yang lahir dari keluarga penderita kelainan jantung dan penyakit keturunan, seperti Down Syndrome lebih berisiko terserang PDA.
  • PDA juga dapat terjadi pada bayi yang lahir kurang dari 26 minggu, atau bayi dengan berat lahir kurang dari 0,5 kg.

Pada umumnya dokter dapat mendiagnosis PDA, dengan mendengarkan detak jantung bayi melalui stetoskop. Jantung bayi dengan PDA umumnya mengeluarkan suara bising atau tidak normal. Beberapa pilihan pemeriksaan lanjutan juga dapat dilakukan untuk menguatkan diagnosis, seperti:

  • Ekokardiografi, pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara, guna menghasilkan gambar jantung dengan detil. Dokter akan memeriksa kemampuan jantung dalam memompa darah, dan melihat apakah terjadi pembesaran pada bilik jantung, dan mendeteksi kelainan lain pada jantung, seperti kelainan katup jantung.
  • Elektrokardiografi (EKG), bertujuan mendeteksi kelainan jantung atau gangguan irama jantung, dari hasil perekaman aktivitas elektrik jantung.
  • Rontgen dada, pemeriksaan ini akan membantu dokter melihat kondisi paru-paru dan jantung bayi.

Pasien dengan bukaan ductus arteriosus yang tergolong kecil tidak memerlukan pengobatan. Hal tersebut karena bukaan dapat menutup dengan sendirinya seiring pertambahan usia bayi. Dokter hanya akan menyarankan pemeriksaan secara rutin untuk memantau kondisi bayi. Pengobatan akan disarankan bila bukaan ductus arteriosus tidak menutup dengan sendirinya, atau jika bukaan tersebut tergolong besar. Metode pengobatan yang tersedia, antara lain dengan pemberian obat, pemasangan alat penyumbat melalui prosedur kateterisasi jantung, dan pembedahan.

Pada prosedur kateterisasi jantung, dokter akan terlebih dulu memasukkan kateter ke pembuluh darah jantung melalui pangkal paha. Kemudian, dokter akan memasukkan alat penyumbat melalui kateter, untuk dipasang di bukaan ductus arteriosus. Melalui tindakan ini, aliran darah akan kembali normal. Pada prosedur bedah biasa dilakukan untuk bayi usia 6 bulan ke atas. Namun demikian, bedah bisa pula diterapkan pada bayi usia 6 bulan ke bawah yang mengalami gejala terkait. Guna mencegah terjadinya infeksi setelah tindakan bedah, dokter akan meresepkan antibiotik.

PDA dengan bukaan lebar dan tidak segera ditangani dapat memicu sejumlah komplikasi, seperti:

  • PDA dapat menyebabkan jantung membesar dan melemah, sehingga menyebabkan gagal jantung.
  • Hipertensi pulmonal, tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru-paru, yang dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru dan jantung.
  • Infeksi jantung (endokarditis) atau peradangan pada lapisan bagian dalam jantung (endokardium).

Pencegahan PDA terbatas pada pencegahan faktor risiko yang dapat diubah, seperti menghindari infeksi virus rubella dengan cara mendapat vaksinasi MMR sebelum hamil.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Foto: Radiopardeia.org

%d blogger menyukai ini: