Mengenal Cedera Otak Akut Pada Anak / Hypoxic Ischemic Encelopathy

Scroll down to content

Ensefalopati hipoksik-iskemik adalah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan kelainan neuropatologis dan klinis yang diperkirakan terjadi pada bayi baru lahir akibat asfiksia intrapartum atau masa neonatal. Biasanya terjadi pada bayi kurang bulan. Kelainan neurologis yang dapat ditimbulkan adalah gangguan intelegensia, kejang, gangguan perkembangan psikomotor dan kelainan motorik yang termasuk di dalam Celebral Palsy. Penanganan ensefalopati hipoksik-iskemik meliputi upaya mempertahankan suhu tubuh bayi tetap normal, menjaga perfusi dan ventilasi yang baik, mempertahankan kadar glukosa antara 75-100 mg/dl, menjaga keseimbangan asam basa dan elektrolit serta penanganan kejang. Diusahakan terapi suhu, perfusi, ventilasi, metabolisme glukosa dan kalsium, status asam basa juga pentingnya penanganan kejang.

Ensefalopati hipoksik-iskemik ditandai dengan adanya kelainan klinis yang ditimbulkan karena adanya cidera akut pada otak akibat asfiksia. Asfiksia sendiri merupakan kondisi dimana kurangnya asupan oksigen dan aliran darah menuju otak. Bayi dengan kondisi HIE dapat mengalami kerusakan permanen sel-sel pada susunan saraf pusat sehingga berdampak pada kematian atau kecacatan. Saat ini, penanganan bayi dengan HIE dilakukan dengan metode pendinginan baik secara Selektif Head Cooling (SHC) dan Whole Body Cooling (WBC).

SHC dilakukan dengan menggunakan Cool-cap. Metode SHC dilakukan dengan cara mendinginkan otak secara langsung karena otak bayi memproduksi 70% dari total panas tubuh. SHC cenderung mendinginkan otak perifer dibandingkan sentral (thalamus, kapsula interna, ganglia basalis). Sedangkan pada WBC menggunakan matras pendingin dan dapat dilakukan dengan sarung tangan yang diisi dengan air dingin atau gel/cool pack. Terapi WBC memberikan efek pendinginan yang lebih homogen ke seluruh struktur otak, termasuk bagian perifer dan sentral otak, sehingga memungkinkan derajat hipotermi lebih dalam dan mencapai struktur otak internal.

Diagnosis ensefalopati hipoksik-iskemik, bahwa bayi dengan risiko tinggi hipoksik-iskemik diperlukan untuk mengantisipasi therapeutic window yang sangat singkat, yaitu interval antara kejadian hipoksik-iskemik dengan intervensi yang dapat mengurangi keparahan kerusakan otak, yang diperkirakan hanya sekitar 6 jam. Identifikasi dini dapat diketahui dari riwayat sebelum persalinan seperti adakah korioamnionitis, bradikardi pada janin, janin mengalami depresi, kebutuhan resusitasi dengan intubasi dan ventilasi tekanan positif di ruang persalinan atau terdapat bukti adanya asidemia pada janin. Pemeriksaan kondisi plasenta juga diperlukan. Pemeriksaan fisis umum dilakukan untuk menilai usia gestasi neonatus, status kardiopulmonar, anomali kongenital, dan parameter pertumbuhan.

Kejadian hipoksik-iskemik pada saat atau sesaat sebelum proses persalinan menentukan gejala sisa jangka panjang, neonatus akan memperlihatkan gejala neurologis segera setelah lahir, bahkan dalam hitungan jam. Sebaliknya tidak adanya tanda dan gejala ensefalopati neonatal selama masa neonatus menandakan tidak adanya kejadian hipoksik-iskemik selama proses persalinan. Kelainan neurologis karena hipoksik-iskemik menyebabkan penurunan kesadaran dan respons, kelainan tonus otot dan kejang.

Pemeriksaan CT-scan dipakai secara luas untuk menentukan perjalanan proses hipoksik-iskemik dan luasnya kerusakan otak, terutatama pada bayi aterm. Pemeriksaan ini lebih bermanfaat untuk melihat kerusakan jaringan otak dan perdarahan, dapat dikerjakan dengan waktu pemeriksaan yang singkat, tanpa sedasi. Gambaran CT-scan pada bayi asfiksia memperlihatkan hipodensitas fokal atau multifokal di substansia alba dan grisea. Hal ini dapat disebabkan oleh iskemia atau edema otak. Edema otak luas digambarkan sebagai hilangnya diferensiasi substansia alba dan grisea, hilangnya sulkus dan girus otak serta ventrikel yang menyempit.

Ensefalopati hipoksik-iskemik merupakan kasus yang sudah jarang, akan tetapi menimbulkan dampak jangka panjang yang berat. Pencegahan agar neonatus tidak mengalami hipoksik-iskemik perinatal serta deteksi dini bayi risiko tinggi mengalami EHI merupakan yang ideal. Penentuan golden period untuk tata laksana hipotermia pada neonatus dengan EHI diperlukan untuk mencegah kerusakan otak yang luas. Ketika kerusakan otak telah terjadi yang dapat kita lakukan adalah mendeteksi sedini mungkin kelainan perkembangan yang diakibatkan.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Foto: Google

%d blogger menyukai ini: