Menderita Penyakit Raynaud, Jemari Wanita Ini Membiru Dalam Cuaca Dingin

Scroll down to content

Wanita bernama Rachel Smith (32) mengalami penyakit aneh yang dinamakan Raynaud. Penyakitnya menyebabkan jemarinya membiru saat dirinya berada dalam cuaca dingin. Tubuhnya bereaksi berlebihan yang menyebabkan pembuluh darah menjadi menyempit sehingga menjadi pucat.

Dilansir dari Liputan6.com, serangan itu dimulai ketika jemarinya pucat memutih, kemudian menguning dan akhirnya membiru. Proses itu menyebabkan dirinya tidak bisa merasakan benda yang disentuh.
“Rasanya seperti kesemutan,” ujar Smith.

Menurutnya, segala jenis pilek dapat menjadi pemicu. Jadi ia harus berhati-hati membuka freezer, memegang minuman dingin, dan bersantai di ruangan ber-AC di musim panas. Kemana ia pergi selalu membawa jaket atau selimut dan juga sarung tangan.

“Aku benci jika ada orang yang mengatakan jika dirinya hanya terlalu sensitif terhadap dingin. Bagiku itu merupakan suatu penyakit yang serius,” ucap Smith.

Menurut National Heart, Lung and Blood Institute, Raynaud merupakan penyakit, sindrom, atau fenomena yang menyebabkan pembuluh darah menyempit sebagai respon terhadap dingin atau stres. Itu sehingga sedikitnya atau bahkan tidak ada darah yang mengalir ke bagian-bagian tubuh yang terkena (jari tangan dan kaki).

Ada 5 persen penduduk Amerika Serikat memiliki kondisi seperti itu. Terjadi pada wanita daripada pria. Kasus wanita berusia 24 tahun baru-baru ini juga ditampilkan dalam Postgraduate Medical Journal.

“Ini merupakan respon berlebihan tubuh terhadap dingin,” kata rheumatologis di Mayo Clinic, Minnesota, Dr. Ashima Makol.

Makol menambahkan, pasien biasanya melihat bagian tubuh yang terkena berubah menajdi pucat. Kemudian, berubah kebiru-biruan ketika pembuluh darah yang menyempit mulai sedikit rileks.

Ada lebih banyak darah yang masuk, tetapi tidak memiliki cukup oksigen di dalamnya, sehingga menjadi biru. Akhirnya, darah yang mengandung oksigen mengubah area yang sebelumnya yang berwarna putih menjadi merah.

“Fase memerah itu dikaitkan dengan munculnya rasa sakit, ketidaknyamanan, mati rasa, kesemutan, dan sensasi terbakar sebelum benar-benar berubah menjadi normal,” ujar Makol.

Sumber : Liputan6.com

Foto :Shutterstock

%d blogger menyukai ini: