Masyarakat Indonesia Ketergantungan Nasi? Bahaya atau Tidak? Ketahui Faktanya!

Scroll down to content

Masyarakat Indonesia sudah sangat melekat dengan ketergantungan terhadap nasi. Dalam 1 hari rata-rata orang akan makan sebanyak 3 kali dan setiap makan pasti didampingi oleh nasi. Ada istilah “tidak makan nasi tidak kenyang”, maka setiap makan, apapun lauknya harus diikuti dengan nasi. Badan Pusat Statistik Indonesia sendiri telah meneliti bahwa masyarakat Indonesia bisa mengkonsumsi nasi sekitar 6 kilogram perbulan atau 1,5 kilogram perminggu. Beberapa ahli berpendapat, bahwa kondisi ini justru akan membawa dampak buruk terhadap kesehatan. Kebanyakan mengkonsumsi nasi dapat mengakibatkan diabetes dan obesitas, pernyataan berikut apakah mitos atau fakta? Simak penjelasannya sebagai berikut.

Konsumsi beras indonesia pertahun perkapita mencapai 136 kilogram. Pada 2019 organisasi pangan dunia telah mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia merupakan negara ke tiga terbesar dengan konsumsi beras dan nasi setelah Bangladesh dan Vietnam. Sebagaimana yang kita ketahui, penghasil utama karbohidrat adalah nasi. Karbohidrat adalah sumber energi utama, terutama untuk kerja otak. Padahal sejatinya, nasi bukanlah pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat tubuh apalagi jika dikonsumsi secara berlebihan. Konsumsi nasi tidak disalahkan, jika yang dikonsumsi merupakan masi yang sehat seperti nasi merah dan nasi hitam, yang sudah dikenal mengadung banyak serat.

Dari sisi kesehatan, mengkonsumsi nasi putih berlebihan akan meningkatkan kadar gula darah, sehingga memicu resiko diabates melitus dan punya kecendrungan akan mengalami obesitas atau kegemukan,. Dari sisi pangan, selisih produksi beras terlalu sedikit terhadap permintaannya. Karena tingginya peminat nasi, dan kurangnya lahan dan petani, pemerintah terpasksa harus mengimpor beras setiap tahun untuk menutuhi kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap nasi.

Pada jaman dahulu, masyarakat indonesia memenuhi kebutuhan pangannya dengan  memakan tanaman alami seperti palma yang terdiri dari nyiur, lontar, aren, dan sagu. Sagu merupakan bahan makanan pokok pada jaman dahulu kala. Makanan pokok pengganti nasi sendiri sudah tersedia dan banyak dianjurkan seperti sagu dan umbi-umbian seperti singkong, ubi, dan kentang. Oleh karena itu, pentingnya pengedukasi masyarakat bahwa untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat tidak selalu harus dengan makan nasi putih. Dengan mengganti nasi putih dengan makanan umbi-umbian, maka gizi akan tercukupi dan juga memenuni kedaulatan dan ketahanan pangan Indonesia.

 

Sumber: CNN Indonesia

%d blogger menyukai ini: