Black Death, Pandemi Dunia Pertama Kali Yang Membinasakan 75 Juta Jiwa

Scroll down to content

Situasi dunia saat ini sedang genting ditengah memburuknya kondisi akibat covid-19. Lebih dari 150 ribu jiwa terjangkit karenanya dan menjadi pandemi global para era milenial saat ini. Pandemi ini mengingatkan kita terhadap pandemi terhebat pertama di dunia pada era ke -14. Black Death atau disebut juga Wabah Hitam  adalah pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada tahun 1347. Black Death membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa, yakni 75 juta nyawa binasa akibat wabah penyakit ini. Black Death di Eropa pertama kali dilaporkan berada di Kota Caffa yang berada di Krimea pada tahun 1347. Dinamakan “Maut Hitam” karena gejala awal dari penyakit ini, membuat kulit penderitanya menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19. Black Death menimbulkan perburuan dan pembunuhan.

Black Death diyakini adalah suatu serangan wabah bubonik yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus rumah.Wabah penyakit ini hanya memberikan harapan hidup satu minggu pada korban. Penyebaran wabah bermula dari seranggga yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan lainnya, tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia. Black Death yang terjadi pada abad ke-14 ditujukan kepada orang yang lebih lemah dari segala sisi termasuk usia dan fisik. Wabah ini menyebar dengan sangat cepat sebelum para dokter atau pemerintah dapat mengetahui asal wabah tersebut. Para dokter pada abad ke-14 kehabisan ide untuk menjelaskan mengenai penyebabnya.

Pemerintah di Eropa pun tidak dapat menyelesaikan masalah karena mereka tidak tahu mengenai penyebab dan cara penyebarannya. Mekanisme penyebaran wabah pada abad ke-14 tidak dimengerti oleh orang pada saat itu. Banyak orang kemudian menyalahkan bahwa ini adalah kemarahan Tuhan. Masing-masing warga menghindari warga lainnya, hampir tidak ada tetangga yang saling berhubungan, saudara tidak pernah menghubungi atau hampir tidak pernah mengunjungi satu sama lain. Wabah penyakit ini lebih buruk dan luar biasa hingga menyebabkan ayah dan ibu menolak untuk menjenguk anak-anak mereka yang terjangkit wabah, seolah-olah mereka tidak miliki anak. Banyak pria dan wanita jatuh sakit, dibiarkan tanpa perawatan apapun kecuali dari rasa sosial dan yang rela membayar dengan upah tinggi, itupun tidak memiliki banyak kesempatan memperolehnya.

Wabah yang menyedihkan, menimpa kalangan kelas bawah dan sebagian besar kelas menengah. Kebanyakan dari mereka tetap tinggal di rumah, hidup dengan kemiskinan dan harapan keselamatan, ribuan orang jatuh sakit. Mereka tidak mendapatkan perawatan dan perhatian, hampir semua penderita wabah penyakit meninggal. Banyak yang mengakhiri hidup di jalan-jalan malam hari dan siang hari, meninggal di rumah-rumah mereka yang diketahui mati karena tetangga mencium bau mayat membusuk. Mereka yang lebih peduli tergerak oleh amal agama akan menyingkirkan mayat-mayat yang membusuk. Dengan bantuan porter, mereka membawa mayat (yang terkena wabah penyakit) keluar dari rumah dan meletakkannya di pintu.

Sumber: Wikipedia

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: