Viral, Kisah Pilu Matt Colvin Sang Penimbun Hand Sanitizer

Scroll down to content

Memburuknya situasi negara-negara akibat covid-19 membuat seluruh lapisan masyarakat panik. Berbagai masalahpun bermunculan, salah satunya kelangkaan pada produk-produk kesehatan seperti masker dan cairan pembersih tangan. Adapun yang menjual kedua barang tersebut, harganya sudah dinaikkan puluhan kali lipat. Masalah ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, melainkan hampir seluruh negara. Banyak warga negara yang tidak kebagian masker terpaksa harus membeli dengan harga yang setinggi langit demi mencegah tertularnya virus covid-19. Kelangkaan tersebut terjadi akibat banyaknya permintaan sedangkan para pemilik usaha tidak sanggup mencukupi permintaan tersebut. Hal ini menjadi kesempatan bagi para oknum, untuk menimbun masker dan cairan pembersih tangan tersebut untuk dijual kembali.

Ini merupakan salah satu kisah nyata di Tennessee, Amerika Serikat dimana seseorang bernama Matt Colvin dihujat oleh banyak orang karena perbuataannya yang menimbun cairan pembersih tangan atau hand sanitizer. Awalnya Matt membeli seluruh stok hand sanitizer dari toko swalayan sesaat sesudah virus covid-19 mulai meruak. Tidak main-main, Matt menimbun hand sanitizer sebanyak 17.700 buah! Matt kemudian menjual kembali barang-barang tersebut melalui situs belanja online, Amazon dan Ebay. Rupanya, Amerika sangat tegas terhadap penimbunan ini, sehingga Amazon dan Ebay pun memblokir seluruh akun Matt sehingga ia tidak bisa menjual kembali barang tersebut.

Matt Colvin dan Hand Sanitizer

Belum cukup akunnya di blokir, Matt juga di usir oleh pemilik gudang, dimana gudang tersebut ia sewa untuk menyimpan timbunannya. Kepolisian setempat langsung mengusut kasus ini dan menuntut Matt dengan praktik berjualan menipu dan tidak adil. Ribuan hand sanitizer hasil timbunannya pun tidak bisa dijual dan terpaksa di donasikan secara Cuma-Cuma untuk dibagikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Rupanya tindakannya ini tidak hanya membuat sebagian orang kesal, tetapi beberapa juga mengirimkan Matt surat berisi ancaman pembunuhan untuk ia dan keluarganya.  Wah, ternyata hukuman dari publik lebih sadis daripada hukuman yang ia terima dari kepolisian setempat yah!

Di Indonesia sendiri, beberapa tempat yang diduga menimbun masker sudah diamankan oleh polisi. Berjualan itu sah saja untuk mengambil keuntungan. Akan tetapi, masih banyak warga kita yang tidak tergerak hatinya, masih menjual masker dan hand sanitizer dengan harga setinggi langit, bahkan melalui situs belanja online sekalipun. Kira-kira, bagaimana yah kebijakan e-commerce di Indonesia? Akankah mereka membiarkan para penimbun tersebut tetap menjual dagangannya dengan harga tinggi? Ataukah para penimbun tersebut juga akan bernasib sama dengan Matt?

Saat ini, keadaan semakin genting dan kepedulian sosial sangat-sangat diperlukan. Tentunya kita tidak ingin salah satu dari keluarga maupun kerabat kita menjadi korban virus ini, bukan? Seperti yang kita ketahui, ekonomi melemah, social distancing diberlakukan, para pemilik usaha pun kehilangan pemasukan. Tapi, bagaimana dengan keadaan saat ini? Apakah pernah terbesit, bagaimana dengan mereka yang tidak mampu membeli masker untuk menjaga diri mereka sendiri?

Beberapa perusahaan kesehatan pun sudah menjual masker dengan harga normal dan batasan pembelian untuk menghindari niat dari oknum-oknum nakal. Lalu, bagaimana dengan kita? Insan Peduli Indonesia, mari kita berbagi dan hentikan menjual barang dengan maraup keuntungan yang tinggi diatas penderitaan negara, mari kita bantu sesama mereka yang membutuhkan. Salam jarak 1 meter!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: