Kisah Dokter Yang Merawat Pasien Covid-19

Scroll down to content

Kali ini sosial media sedang ramai memperbincangkan Dokter Handoko Gunawan. Dr. Handoko merupakan salah satu dokter paru-paru di Rumah Sakit Graha Kedoya, Jakarta Barat. Saat ini, usia Dr. Handoko sudah 80 tahun. Dengan resiko pekerjaan yang sangat tinggi, demi mereka yang berjuang sembuh karena terinfeksi virus Covid-19, Dr. Handoko pun harus bekerja sampai subuh.  Di usianya yang sudah tua, beliau bahkan tidak memikirkan resikonya dan hanya mengatakan tidak masalah jika sudah waktunya untuk meninggal, karena dirinya pun sudah menua.

Keluarganya di rumah pun sudah menyarankan kepada Dr. Handoko untuk tidak terjun menangani pasien Covid-19. Kepada  Dokter Handoko dan dokter-dokter lainnya yang juga berjuang di rumah sakit untuk para pasien Corona, kalian sesungguhnya ada pejuang dan pahlawan kesehatan negeri ini!

Selagi dunia sedang dilanda virus ini, ujaran, berita menakutkan tentang virus ini terus bermunculan. Tapi seolah kita melupakan para pejuang di rumah sakit. Disinilah rasa kemanusiaan kita sedang di uji.  Bagaimana dengan mereka, yang mengabdi untuk kemanusiaan?

Tidak semua orang berani untuk menangani penyakit ini. Diri sendiri adalah taruhannya.  Keberaniannya menangani pasien virus Corona menjadi perhatian publik, terutama yang meninggal karena Covid-19 kebanyakan adalah lansia. Kisah ini mengingatkan kita kepada Dr. Li Wen Liang. Dokter Li merupakan dokter yang pertama kali mencetuskan penemuan virus corona manusia, tetapi dituduh menebarkan hoax yang membuat resah masyarakat.

Polisi secara resmi meminta Dr.Li untuk menandatangani surat tidak akan menyebarkan hal tersebut lagi. Tidak berselang lama, virus corona ini pun muncul dan merebak seketika di Wuhan. Dr.Li pun harus meregang nyawa karena tertular virus ini dari pasiennya sendiri. Polisi pun secara resmi sudah meminta maaf atas kejadian ini. Seandainya, pada saat itu Dr. Li berhasil menemukan virus ini dan vaksin pencegahan ditemukan, akankah wabah covid-19 tetap merajalela seperti sekarang ini?

Para dokter, perawat, dan petugas medis lainnya yang bertugas untuk melayani dan mengawasi pasien terinfeksi Covid-19 sudah dibekali  oleh pemahaman mengenai infeksi dan alat perlindungan diri sesuai prosedur. Mereka yang ditugaskan di ruang isolasi diharuskan memakai Hazmat. Hazmat merupakan seperangkat baju seragam menyerupai mantel pelindung, lengkap dengan sarung tangan, masker, pelindung kepala dan kaca mata. Hazmat yang sudah digunakan, disterilkan kemudian harus dibuang.

Tidak ada kata lain yang dapat kami ucapkan kepada mereka para pejuang, selain TERIMA KASIH.

Saat ini, Rumah Sakit rujukan pemerintah sangat membutuhkan alat-alat medis perlindungan diri untuk dapat terus mengawasi pasien terinfeksi. Karena adanya kelangkaan pada alat-alat tersebut, Peduli Sehat mengajak seluruh Insan Peduli untuk ikut berkontribusi terhadap para tenaga medis Indonesia. Seluruh donasi yang terkumpul seluruhnya akan diberikan untuk membeli perlengkapan medis untuk RS rujukan Covid-19. Donasi bisa kamu lakukan melalui link https://pedulisehat.id/pejuangcorona

Photo by Liputan 6

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: