Biasakan Budaya Tanpa Diskriminasi

Scroll down to content

21 Maret adalah bagian penting dalam perjuangan anti diskriminasi rasial di dunia. Pada tanggal ini, tepatnya tahun 1966, Dewan Keamanan PBB menjadikan hari tersebut sebagai hari penghapusan diskriminasi rasial sedunia atau International Day for the Elimination of Racial Discrimination. Per­soalan rasisme ini telah me­nye­luruh ke segala aspek kehidupan baik iu politik, dan sosial hingga memunculkan diskriminasi rasial. Orang yang mengalami diskriminasi rasial akan ditempatkan lebih rendah harkat dan marta­batnya dibandingkan dengan ras yang lain dan menjadi kaum minoritas. Diskri­mi­nasi rasial ini sudah terjadi selama ratusan tahun, sepan­jang sejarah manusia itu sen­diri. Sejarah mencatat pepe­rangan bisa terjadi dika­rena­kan isu rasisme, termasuk ekspansi dan penjajahan di­ma­sa lampau. Lalu bagaimana dengan diskriminasi di Indo­nesia?

Indonesia meru­pakan salah satu negara yang belum menoleransi hadirnya ras bangsa lain. Indonesia merupakan ne­ga­ra yang multikultur. Ber­bagai keberagaman baik itu ras, suku maupun agama tum­buh dan berkembang di Indo­nesia. Hidup dalam kebera­gaman memanglah tidak mu­dah, terdapat perbedaan pen­dapat dan pandangan dida­lam­nya. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa sebagian populasi Di Indonesia meno­lak untuk hidup berdam­pi­ngan dengan bangsa lain. Diskriminasi rasial telah menjadi bagian dari pe­lang­garan HAM, pada masa pemerintahan Orda Lama dan Orde Baru. Etnis Tionghoa mendapat perlakuan yang buruk dan banyak kebijakan pemerintah yang merugikan etnis Tionghoa untuk hidup di In­donesia secara layak.

Dalam aspek sosial, isu rasisme sering kali dijadikan sebagai guyonan, seperti di lingkungan kampus, isu rasisme menjadi bahan tertawaan antar teman. Guyonan seperti ini seringkali dilakukan dan tanpa disadari akhirnya membentuk pribadi anak bangsa yang suka me­ngejek dan mengucilkan, pada akhirnya mem­budaya dan sulit dile­pas­kan. Padahal, guyonan seperti itu dapat dikatakan sebagai diskriminasi tidak langsung. Hal tersebut dialami oleh kelompok mi­noritas dalam suatu ling­ku­ngan. Untuk aspek sosial seperti ini, isu rasisme men­jadi hal “lumrah” dalam ma­syarakat kita.

Indonesia dengan kebe­ragaman perlu untuk mem­perjuangkan sebagai sebuah negara tanpa diskriminasi. Hal lainnya yang bisa mem­­bantu adalah mem­be­rikan pendidikan anti rasisme dan membiasakan budaya tanpa diskriminasi.  Hubu­ngan antar kedua hal tersebut adalah baik untuk masyarakat kita. Pendidikan anti rasisme sejak dini dapat diajarkan baik dalam keluarga, sekolah mau­pun lingkungan. Dengan mem­berikan pengajaran dan pemahaman yang baik sejak dini, maka anak-anak bangsa akan mengerti dan mulai untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai guyonan yang tidak berarti.

Rasisme telah turun-te­mu­run dan menjadi doktrin yang membentuk pola pikir dalam masyarakat. Karena itu, untuk mengatasi dis­kriminasi rasial dalam ma­sya­rakat, yang perlu dila­kukan adalah meru­bah pola pikir masyarakat kita bahwa suatu perbedaan termasuk warna kulit, bentuk wajah dan hal sejenis lainnya meru­pakan ciptaan dari Yang Maha Esa dan bukan menjadi kualifikasi atas orang terse­but sehingga menghasilkan keti­dak­adilan. Agar “ Bhi­neka Tunggal Ika” yang kita sebut-sebut bukan sekedar istilah tak bermakna.

Sumber: Rahma Yeni Caniago

Photo by Rakyat Rukun

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: