Herd Immunity, Cara Untuk Mengakhiri Penyebaran Virus

Scroll down to content

Istilah Herd Immunity memang terdengar baru dan belum familiar di telinga. Herd immunity dikenal sebagai cara untuk menghentikan penyebaran penyakit atau virus yang sedang mewabah. Sebelumnya, Herd immunity sudah pernah dilakukan pada tahun 2017 di Salvador, Brazil untuk mengakhiri penyebaran viruz Zika yang saat itu mewabah. Herd immunity  disebut juga dengan kekebalan pada suatu kelompok.  Hal ini merupakan bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular, dan dilakukan ketika sebagian besar populasi kebal terhadap infeksi, dan dianggap mampu menciptakan perlindungan bagi individu yang tidak kebal. Kebal terhadap infeksi, dalam arti sudah pernah terpapar infeksi atau sudah melakukan vaksinasi.

Kekebalan pada seseorang muncul saat terinfeksi virus, lalu sembuh ketika sistem kekebalan tubuh berhasil melawan virus tersebut. Orang tersebut akan kebal terhadap virus karena sistem imun mereka sudah memiliki antibodi untuk melawan virus. Dikutip dari MIT Technology Review melalui lama CNN Indonesia, Herd immunity  terbentuk ketika sudah cukup banyak orang yang terinfeksi virus. Dimana virus terus akan dibiarkan menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan jika bertahan hidup akan kebal. Perlahan tapi pasti, wabah akan hilang dengan sendirinya. Ketika sudah banyak orang yang kebal, virus akan semakin sulit menemukan tempat yang rentan dan penyebaran akan berhenti secara alami.

Konsep ini dinilai mengerikan karena akan membiarkan banyak orang terinfeksi terlebih dulu dan akan banyak pula orang yang meninggal dunia. Untuk bisa mencapai Herd immunity, dibutuhkan lebih dari 50 persen populasi yang terinfeksi. Kejadian ini bisa dikatakan mirip seperti yang sedang terjadi di Italia. Dimana orang-orang yang sudah tidak mampu untuk melawan virus akan meninggal dengan sendirinya, dan orang-orang yang bertahan akan sembuh. Meskipun ada yang menyatakan pernyataan ini sangat radikal, namun inilah kenyataan yang terjadi di Italia saat ini.

Wah, menyeramkan yah kalau ini sampai terjadi di Indonesia. Untungnya pemerintah kita sigap dan responsif. Rapid test atau tes masif yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, masih dianggap lebih manusiawi dengan perencanaan penanganan yang lebih matang. Tentunya tidak semua orang dalam mengikuti tes masif ini karena ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mengikutinya. Pastikan kamu membaca kriteria tersebut. Klik disini untuk mengetahuinya.  

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: