Sering Konsumsi Gluten Berpotensi Mengidap Penyakit Celiac

Scroll down to content

Penyakit celiac merupakan penyakit autoimun yang terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi gluten. Gluten sendiri merupakan protein yang bisa ditemukan pada beberapa jenis sereal, misalnya gandum. Beberapa contoh makanan yang mengandung sereal adalah pasta, keik, sereal sarapan, saus atau kecap tertentu, roti, dan beberapa jenis makanan instan. Gluten berfungsi membuat adonan roti atau makanan lain menjadi elastis dan kenyal. Konsumsi gluten yang berlebihan dapat merusak sistem kekebalan tubuh yakni merusak lapisan usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi, akibatnya, penderita akan mengalami diare, lemas, atau anemia.

Gejala penyakit celiac dapat muncul lalu menghilang, dari yang ringan hingga yang berat. Gejala paling umum yang dirasakan penderita celiac adalah diare, karena adanya ketidakmampuan sistem pencernaan menyerap nutrisi dari makanan secara sempurna, dan hal ini membuat tinja mengandung lemak yang tinggi. Kotoran yang dikeluarkan penderita penyakit celiac akan berbau tidak sedap, berminyak, dan berbusa. Gejala penyakit celiac pada anak-anak dan dewasa dapat sedikit berbeda, di mana gejala pada sebagian penderita dewasa tidak berkaitan dengan sistem pencernaan, antara lain:

  • Anemia, sebagai akibat dari kekurangan zat besi atau vitamin B12.
  • Kesemutan dan mati rasa pada ujung jari tangan dan kaki (neuropati perifer).
  • Pembengkakan pada tangan, telapak kaki, lengan, serta tungkai, akibat penumpukan cairan di jaringan tubuh.
  • Rusaknya kepadatan tulang.
  • Rusaknya lapisan gigi.
  • Ruam pada kulit yang terasa gatal dan lecet (dermatitis herpetiformis).
  • Nyeri sendi.
  • Gangguan keseimbangan tubuh.
  • Gangguan fungsi limpa.
  • Sulit hamil.

Sedangkan pada anak-anak, gejala penyakit celiac dapat berupa:

  • Nyeri perut.
  • Perut kembung.
  • Konstipasi.
  • Turunnya berat badan, hingga gangguan tumbuh-kembang.
  • Tinggi tubuh di bawah rata-rata.
  • Pubertas terlambat.
  • Gangguan saraf
  • Sakit kepala

Penyakit Celiac terjadi ketika tubuh salah mengenali senyawa yang terkandung di dalam gluten sebagai ancaman yang membahayakan dan malah membentuk antibodi untuk mengatasinya, sehingga menyerang jaringan tubuh yang sehat. Pada kasus celiac, antibodi membuat usus halus mengalami peradangan dan bengkak. Zat antibodi ini akan membuat bulu-bulu halus (villi) di permukaan usus menjadi rusak, sehingga proses penyerapan nutrisi dari makanan menjadi tidak sempurna. Selain itu, pada sebagian besar penderita celiac juga ditemukan kelainan genetik yang dapat menimbulkan perubahan sel pada usus halus.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit celiac:

  • Faktor keturunan, misalnya terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit celiac, maka risiko mengalami penyakit serupa juga lebih besar.
  • Faktor lingkungan, misalnya seseorang yang pernah mengalami infeksi sistem pencernaan saat masih anak-anak, misalnya infeksi rotavirus, akan memiliki risiko lebih besar terkena penyakit celiac.
  • Kondisi kesehatan, seperti diabetes tipe 1, kolitis ulseratif, gangguan saraf, down sindrom dapat meningkatkan risiko terkena penyakit celiac.

Ada beberapa prosedur diagnosis yang dapat dilakukan penderita penyakit celiac, yaitu:

  • Tes darah berupa tes serologi dan genetik. Tes serologi bertujuan mencari antibodi celiac dalam tubuh, sedangkan tes genetik mencari kelainan genetik pada penderita penyakit celiac.
  • Endoskopi dan biopsi, untuk mengetahui kondisi usus halus, maka dapat dilakukan endoskopi.
  • Biopsi kulit, jika pasien terlihat menderita dermatitis herpetiformis, maka diperlukan pengambilan sampel kulit untuk memastikannya.
  • BMD. Pasien akan menjalani pemeriksaan kepadatan tulang dengan BMD

Untuk menangani penyakit celiac, penderita sebaiknya menghindari seluruh makanan atau bahan apa pun yang mengandung gluten dengan menjalankan program diet bebas gluten, seperti daging dan ikan, sayuran dan buah, susu dan produk olahan susu seperti keju dan mentega, kentang, serta nasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah rusaknya dinding usus, serta gejala diare dan nyeri perut. Melakukan diet dengan gizi yang seimbang di mana seluruh nutrisi yang  dibutuhkan tubuh dapat terpenuhi. Selain pada makanan, gluten juga bisa terdapat pada obat-obatan, vitamin, bahkan lipstik.

Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa dialami penderita, yaitu:

  • Malabsorpsi dan malnutrisi, dimana tubuh penderita tidak bisa menyerap nutrisi dengan sempurna, yang bisa mengakibatkan anemia defisiensi zat besi , osteoporosis, turunnya berat badan, dan pertumbuhan terhambat. Pada kondisi ini juga akan timbul gejala lemas, pusing, atau tampak bingung
  • Kurangnya kalsium dan vitamin D bisa menyebabkan gangguan pada organ reproduksi, parahnya bisa menyebabkan infertilitas dan keguguran. 
  • Penderita akan berisiko mengalami intoleransi laktosa karena tubuhnya kekurangan enzim untuk mencerna laktosa, yang biasanya ditemukan pada produk susu seperti keju, susu, atau yogurt.
  • Penderita penyakit celiac memiliki risiko lebih besar terkena kanker usus dan limfoma usus.
  • Berat badan bayi lahir rendah, jika terjadi pada ibu hamil dengan penyakit celiac yang tidak terkontrol.

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: