Yordania Gunakan Hydroxychloroquine untuk Obati Pasien Covid-19

Scroll down to content

Badan Obat dan Makanan (FDA) Yordania memberikan izin kepada dokter pengunaan hydroxychloroquine bersama dengan obat antivirus sebagai pengobatan untuk Covid-19 pada pasien dalam stadium lanjut penyakit ini.

Sebuah penelitian di Perancis menunjukkan hydroxychloroquine, obat untuk malaria yang digunakan di seluruh dunia selama beberapa dekade, bermanfaat dengan mekanisme antibiotik untuk memerangi infeksi virus corona.

Dr Hayel Obeidat, kepala FDA Yordania, mengatakan kepada Aljazeera, lembaganya mengizinkan penggunaan hydroxychloroquine pada Minggu dan menetapkan dasar hukum penggunaannya, mengacu pada studi internasional di Amerika Serikat dan Eropa.

“Hydroxychloroquine seharusnya hanya digunakan sebagai bagian dari protokol perawatan dengan komponen antivirus lainnya dengan pengawasan dokter. Ini bukan mekanisme pencegahan,” jelasnya kepada Aljazeera, dikutip Senin (23/3).

Obeidat menjelaskan telah melarang penjualan hydroxychloroquine di apotek-apotek untuk mencegah penimbunan obat dan hanya diperuntukkan bagi pasien yang benar-benar membutuhkannya.

Menteri Kesehatan Dr Saad Jaber mengumumkan 13 kasus lagi dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Minggu malam, sehingga total kasus virus corona menjadi 112. Sekitar 5.000 orang masih berada di pusat karantina pemerintah di hotel-hotel di ibukota Amman dan daerah Laut Mati.

Pemerintah mengumumkan keadaan darurat pada Kamis dan mengumumkan jam malam pada Sabtu untuk memerangi penyebaran virus corona.

Adapun untuk mengobati infeksi Covid-19 saat ini di Yordania dengan hydroxychloroquine, Obeidat mengatakan, pada titik ini, semua kasus yang dikonfirmasi tidak begitu memerlukannya.

Dia mengatakan, produsen farmasi Yordania memiliki pasokan obat yang besar dan menyumbangkan semua stok mereka kepada pemerintah dalam upaya untuk melawan infeksi.

Perlu Kajian Lagi
Dr Asem Mansour, Kepala Pusat Kanker Raja Hussein di Yordania, sebuah rumah sakit terkemuka di Yordania, mengatakan penelitian Perancis yang mengatakan, kemungkinan pengobatan virus corona menggunakan hydroxychloroquine tidak akurat secara ilmiah dalam hal ukuran dan parameter pengukurannya.

“Namun, penggunaan hydroxychloroquine harus diberikan hanya sebagai obat pilihan terakhir,” jelasnya.

Yordania, sebuah negara berpenduduk sekitar 10 juta orang, tidak mampu menangani penambahan kasus corona secara eksponensial di antara penduduknya, yang diperkirakan dalam beberapa pekan mendatang, katanya.

“Tiga pekan ke depan sangat penting karena orang yang dikarantina mungkin menunjukkan infeksi dan karena antrean panjang di toko roti dan toko makanan tepat sebelum jam malam diberlakukan pada hari Sabtu, yang mungkin meningkatkan jumlah infeksi,” ujar Mansour.

“Harapan kami adalah orang-orang akan mematuhi arahan pemerintah untuk mencegah infeksi yang meluas dan menghindarkan negara dari situasi yang mengerikan.”

Dia menambahkan Yordania memiliki sejumlah unit perawatan intensif dan tempat tidur rumah sakit untuk menangani meluasnya wabah.

Sumber : Merdeka/Aljazeera

Foto : Veltnews

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: