Mari Kenali Penyakit Tuberkulosis XDR

Scroll down to content

Selasa, 24 Maret lalu diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia. Penyakit ini masih menduduki urutan besar penyakit resiko mematikan. Ketika terdiagnosis tuberkulosis, maka wajib bagi pasien menjalani pengobatan jangka panjang.

Biasanya, pengobatan dapat memakan waktu sampai enam bulan atau bahkan lebih, tergantung dengan tingkat stadium penyakitnya. Ketika pasien tidak disiplin saat melakukan pengobatan, penyakit tuberkulosis dapat menimbulkan risiko resistensi antibiotik. Pada kasus yang lebih parah, tuberkulosis bisa berkembang menjadi TB XDR.

Apa itu TB XDR?
Extensively drug-resistant (XDR) tuberculosis merupakan kondisi di mana pasien kebal terhadap pengobatan TBC yang dikenal ampuh seperti isoniazid (INH) dan rifampisin. Penyakit ini serupa dengan TB MDR (multi-drug resistant tuberculosis), bedanya TB XDR adalah kondisi yang lebih serius dan tidak bisa ditangani dengan obat lini kedua.

Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena resistensi obat akan membuat virus TB semakin sulit untuk dibunuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. TB jenis ini juga dapat menular ke yang lain seperti TB biasa.

Mengutip data WHO pada akhir 2016, terdapat sekitar 6,2% pasien dengan TB XDR yang tersebar di 123 negara. Dari 490,000 kasus TB MDR di tahun yang sama, hanya sebagian kecil virus TB XDR yang terdeteksi. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bertambahnya jumlah pasien TB XDR, mengingat masih banyak negara yang belum memiliki kapasitas mumpuni untuk mendiagnosis kondisi tersebut.

Penyebab TB XDR bisa muncul?
Umumnya, kondisi ini dapat disebabkan baik karena faktor eksternal maupun faktor internal.

TB XDR bisa terjadi karena adanya kesalahan pada pengobatan yang diberikan. Kesalahan ini merupakan penyebab faktor eksternal. Beberapa di antaranya adalah obat TB yang disalahgunakan, perawatan klinis yang tidak memadai, resep pengobatan yang tidak tepat, kualitas obat yang buruk, pasokan obat ke klinik yang tidak menentu, serta durasi pengobatan yang terlalu pendek.

Sedangkan pada faktor internal, kondisi ini dapat terjadi jika pasien tidak mengonsumsi obat dengan teratur, melakukan durasi pengobatan melebihi atau kurang dari waktu yang dianjurkan dokter, atau virus TB yang sudah ditangani muncul kembali.

Penyakit ini juga dapat ditularkan ketika Anda menghirup bakteri yang tersebar ke udara saat pasien dengan kondisi ini batuk, bersin, atau bahkan berbicara.

Untungnya, TB tidak dapat ditularkan melalui jabatan tangan, berbagi makanan dan minuman, berbagi tempat tidur dan toilet, berbagi sikat gigi, serta berciuman.

Sumber : Hellosehat
Photo : Marketeers

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: