Mengenal Ventilator dan Kegunaannya untuk Pasien Covid-19

Scroll down to content

Dalam proses memerangi pandemi virus corona, negara-negara di seluruh dunia kini berebut alat kesehatan dalam upaya memerangi virus Corona. Kebutuhan masker, alat pelindung diri (ADP), hingga ventilator sangat tinggi dan memaksa produksi yang tanpa henti.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mendatangkan 100 ventilator, atau alat bantu pernapasan, untuk dikirim ke beberapa rumah sakit rujukan untuk kasus Covid-19. Pemerintah juga menyatakan bahwa setiap rumah sakit rujukan sudah memiliki ventilator, dan dinyatakan siap pakai.

Sebenarnya seberapa penting Ventilator dalam penanganan pasien Covid-19.

Apa sebenarnya ventilator?

Ventilator adalah mesin dengan fungsi menunjang atau membantu pernapasan seseorang. Melalui alat ini, pasien yang sulit bernapas sendiri akan dibantu untuk mendapatkan udara dan bernapas seperti orang normal.

Mengutip Alodokter, mesin ventilator akan mengatur proses menghirup dan menghembuskan napas pada pasien. Ventilator akan memompa udara selama beberapa detik untuk menyalurkan oksigen ke paru-paru pasien, lalu berhenti memompa agar udara keluar dengan sendirinya dari paru-paru.

“Alasan mengapa saat ini adalah saat krisis adalah karena tanpa ventilator, pasien (Covid-19) akan meninggal”, kata Prof. David Story, deputi direktur Pusat Perawatan Terpadu Universitas Melbourne, seperti dikutip dari The Guardian.

Hal senada diungkapkan oleh Sarath Ranganathan, profesor sekaligus anggota dewan Lung Foundation Australia.

“Pengalaman di Italia dan Spanyol, dan pemodelan yang digunakan oleh ahli matematika di seluruh dunia, menunjukkan jumlah orang yang akan menjadi sakit kritis dengan Covid-19 akan sangat melebihi kapasitas perawatan yang menggunakan bantuan pernapasan. Tanpa akses ke ventilator, banyak pasien yang bisa selamat dari infeksi akan meninggal,” ujarnya.

Kebutuhan Pengunaan Ventilator

Sebelum memutuskan penggunaan ventilator, dokter akan melihat apakah pasien memiliki kesulitan atau kegagalan dalam bernapas, seperti naiknya ritme napas, pasien kemudian akan terlihat tertekan, dan CO2 dalam darah naik. Menurut Story, kecepatan pernapasan normal adalah sekitar 15 napas per menit, dan jika kecepatannya menjadi sekitar 28 kali semenit, ini adalah sinyal bahwa ventilator mungkin diperlukan.

“Pasien dapat bertahan untuk jangka waktu singkat menggunakan bentuk ventilator manual seperti menggunakan sistem kantong dan masker dengan oksigen, tetapi biasanya pemasangan ventilator harus dilakukan dalam 30 menit jika kondisi pasien kritis”, kata Ranganathan.

Story mengatakan bahwa pada pasien Covid-19 yang parah, suatu kondisi yang disebut sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome atau Ards) yang mengancam jiwa bisa muncul, yang membutuhkan ventilator untuk memberikan volume oksigen dan udara yang lebih kecil, tetapi pada tingkat yang lebih tinggi. Menurutnya, Ini bisa berarti pasien perlu menggunakan ventilator selama beberapa minggu.

Pemasangan ventilator

Ventilator dalam upaya penanganan pasien Covid-19 sangat penting, karena Covid-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru yang merupakan organ pernapasan terpenting.

Sebelum seorang pasien ditempatkan pada ventilator, staf medis – seringkali ahli anestesi – akan melakukan prosedur yang disebut intubasi. Setelah pasien dibius dan diberikan pelemas otot, sebuah selang ditempatkan melalui mulut dan mengarah ke tenggorokan.

Dalam penanganan pasien Covid-19, staf medis perlu mengambil tindakan pencegahan ekstrim untuk memastikan mereka tidak terinfeksi virus, seperti mengenakan coverall atau setelan hazmat. Tabung pernapasan kemudian dilekatkan ke ventilator dan staf medis dapat menyesuaikan kecepatan yang mendorong udara dan oksigen ke paru-paru, dan menyesuaikan kadar oksigen.

Sumber : (CNN Indonesia)

Foto : Wikimedia

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: