Nature Deficit Disorder, Ketika Anak Ketergantungan Pada Gadget.

Scroll down to content

Untuk menggunakan waktu dengan baik, ada beberapa orang yang melakukan aktifitas, misalnya dengan cara berkebun, jalan-jalan sore, bermain, olahraga, atau sekadar menikmati pemandangan ditemani angin segar. Namun, beberapa tahun terakhir, gaya hidup mulai berubah. Orang-orang lebih memilih sibuk bermain dengan gadget atau smartphone. Era modernisasi yang semakin maju dan semakin canggih, sedikit demi sedikit menjauhkan aktifitas tersebut dari kehidupan sehari-hari kita. Karena hal inilah, munculnya istilah Nature Deficit Disorder. Dimana istilah ini digunakan karena kurangnya interaksi dengan alam sehingga berdampak pada kesehatan jiwa. Nature Deficit Disorder bukan merupakan penyakit medis, namun membutuhkan perhatian lebih, terutama untuk anak-anak.

Kecendurungan dalam bermain gadget atau ketergantungan akan teknologi, dapat mengancam perilaku anak menjadi anak yang malas dan egois. Padahal pada masa kanak-kanak, merupakan masa dimana anak-anak harus di stimulasi, dengan mengoptimalkan kemampuan, perkembangan dan pertumbuhan anak, baik fisik, kecerdasan, emosional dan kemampuan anak dalam bersosialisasi. Di era milenial ini, ada kondisi dimana anak-anak kurang melakukan kegiatan outdoor, karena terlalu sering bermain gadget. Khususnya untuk budaya perkotaan, dimana orang tua kebanyakan sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Akibatnya, berdampak pada munculnya beberapa gangguan perilaku pada anak, seperti :

  • Sulit bersosialisasi
  • Mudah tersulut emosi
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengikuti aturan
  • Bersikap kasar

Anak-anak yang seharusnya belajar lebih aktif dari lingkungan di sekitarnya dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Lalu, kepentingan anak untuk bermain, belajar menjadi terabaikan, akibatnya anak lebih memilih bermain gadget.  Sebagai orang tua, sudah seharusnya kita menemani dalam pertumbuhan anak. Mengarahkan anak untuk tidak selalu berpaku pada gadget, melakukan aktifitas misalnya memperdalam hobby atau keterampilan lainnya. Sebagai orang tua, tentunya harus mempunyai jiwa yang fleksibel, dimana anak pasti diperbolehkan sesekali untuk bermain gadget. Namun, ada baiknya jika pengunaan gadget dapat  dibatasi, agar tidak sampai berlebihan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: