Waspadai Kolitis Ulseratif, Peradangan Pada Usus Besar

Scroll down to content

Kolitis ulseratif atau ulcerative colitis adalah peradangan pada usus besar (kolon) dan bagian akhir usus besar yang tersambung ke anus (rektum). Penyakit ini biasanya berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini sering kali ditandai dengan diare yang terus menerus, disertai darah atau nanah pada tinja. Kolitis ulseratif biasanya bermula dari terbentuknya luka di rektum, lalu menjalar ke atas. Luka di usus besar ini menyebabkan penderitanya lebih sering buang air besar dan tinja yang keluar disertai dengan darah atau nanah. Gejala kolitis ulseratif sendiri akan hilang-timbul sepanjang hidup penderitanya, dan dapat berbeda pada tiap penderita, sesuai tingkat keparahannya. Beberapa gejala yang sering muncul pada penyakit ini adalah:

  • Diare yang disertai darah atau nanah.
  • Nyeri atau kram perut.
  • Sering ingin buang air besar, tapi tinja sulit
  • Tubuh mudah lelah.
  • Nyeri anus.
  • Berat badan menurun.
  • Demam.

Kadang gejala di atas dapat dirasakan lebih ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Kondisi ini disebut periode remisi. Periode remisi kemudian dapat diikuti dengan munculnya kembali gejala, yang disebut dengan periode relaps. Selain gejala di atas, penderita kolitis ulseratif yang relaps juga dapat mengalami gejala lain, seperti:

  • Sariawan
  • Mata merah
  • Nyeri dan bengkak pada sendi

Pada kasus yang parah, penderita dapat mengalami jantung berdebar hingga sesak napas, dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius yang bisa mengancam nyawa. Sebanyak 5-8% penderita kolitis ulseratif terkena kanker usus besar atau kanker kolorektal. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining kanker usus besar tiap 1-2 tahun sebagai pencegahan. Skrining kanker usus besar sebaiknya dilakukan 6-10 tahun setelah kemunculan gejala kolitis ulseratif. Skrining lebih awal juga disarankan apabila Anda memiliki keluarga yang menderita kanker usus besar.

Penyakit ini diduga dipicu oleh respons sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan. Kondisi tersebut menyebabkan peradangan dan luka di dinding dalam usus besar. Selain itu, Kolitis ulseratif juga dipicu oleh faktor lingkungan, seperti infeksi virus atau stres, atau akibat dari penggunaan pil KB, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), atau antibiotik.

Ulseratif kolitis dapat terjadi pada siapa saja, namun lebih berisiko terjadi pada orang dengan kondisi berusia di bawah 30 tahun. Meski begitu, beberapa orang baru terserang ulseratif kolitis setelah usianya di atas 60 tahun. Tidak hanya itu, orang yang memiliki riwayat ulseratif kolitis dalam keluarga, mencakup orang tua, saudara kandung, atau sepupu.

Untuk menentukan kolitis ulseratif, dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, yang meliputi Pemeriksaan sampel tinja, pemeriksaan feses dan kolonoskopi.
Pasien diduga menderita kolitis ulseratif bila jumlah sel darah putih pada tinja melebihi nilai normal. Selain itu, pada pemeriksaan feses, dokter juga dapat menentukan penyebab selain kolitis ulseratif. Kolonoskopi sendiri digunakan untuk melihat bagian dalam usus besar, untuk diteliti di laboratorium.

Pengobatan kolitis ulseratif bertujuan untuk meredakan dan mencegah kekambuhan gejala. Metode pengobatannya tergantung pada tingkat keparahan gejala dan seberapa sering gejala kambuh, yaitu:

· Mengubah pola makan

Beberapa makanan dan minuman dapat memperburuk gejala kolitis ulseratif, terutama saat kambuh setelah periode remisi. Untuk meringankan gejalanya, Anda dapat membatasi dan menghindari jenis makanan seperti susu dan produk olahannya, makanan pedas, makanan tinggi serat, seperti buah, sayur, dan kacang-kacangan, serta minuman beralkohol dan berkafein. Makan pun disarankan beberapa kali sehari dalam porsi kecil, dan dianjurkan untuk banyak minum air putih setiap hari.

·         Mengurangi stres

Stress bukanlah penyebab dari kolitis ulseratif, namun stres dapat memperburuk gejalanya. Oleh karena itu, kelola stres dengan baik dengan berolahraga ringan atau melakukan teknik relaksasi pernapasan dan otot.

·         Mengonsumsi obat-obatan

Dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk mengatasi kolitis ulseratif, sesuai tergantung pada tingkat keparahan gejala. Obat-obat yang umum diberikan antara lain seperti obat antiradang, obat imunosupresan, obat pereda nyeri paracetamol, antidiare, dan antibiotik.

·         Menjalani operasi

Operasi merupakan pilihan terakhir jika metode pengobatan lain tidak mampu meredakan gejala yang sudah parah. Tujuan operasi adalah untuk mengangkat sebagian atau seluruh usus besar secara permanen.

Bila usus besar diangkat secara menyeluruh, usus halus akan langsung disambungkan ke anus. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, dokter bedah akan membuat lubang permanen di perut (stoma) untuk mengeluarkan tinja ke kantong kecil di luar tubuh. Prosedur ini disebut kolostomi. Kolitis ulseratif dapat memicu berbagai kondisi lain yang berbahaya. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  • Penyumbatan pembuluh darah.
  • Megakolon toksik atau pembesaran usus besar.
  • Usus besar robek.
  • Peradangan pada mata, kulit, dan sendi.
  • Pengeroposan tulang atau osteoporosis.
  • Penyakit liver.
  • Perdarahan hebat.
  • Dehidrasi parah.
  • Meningkatnya risiko kanker kolorektal.

Agar kanker usus besar dapat terdeteksi secara dini, penderita kolitis ulseratif disarankan untuk melakukan skrining kanker usus besar setiap 1-2 tahun. Jangan lupa untuk mengatur pola makan yang sehat sesuai anjuran agar gejalanya tidak semakin parah.

Sumber: AloDokter

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: