Ketahui Perbedaan Isolasi, Karantina dan Lockdown

Scroll down to content

Sejak menyebarnya kasus virus corona atau Covid-19 di Indonesia, muncul beberapa istilah yang berhubungan dengan pencegahan penyebaran seperti yang sering kita dengar yaitu isolasi mandiri, karantina, dan lockdown. Banyak masyarakat yang masih menganggapnya mempunyai arti yang sama. Namun, ketiganya mempunyai arti dan maksud yang berbeda namun dengan satu tujuan yaitu mencegah virus tidak menyebar luas di tengah masyarakat.  Yuk kita simak perbedaannya.

Isolasi mandiri berlaku untuk orang-orang yang mengalami lebih dari satu gejala Covid-19. Jadi, isolasi mandiri ini tidak berlaku untuk seluruh orang. Jika dalam isolasi mandiri ini, ternyata gejala tidak membaik atau terjadi hal-hal buruk, harus langsung menghubungi hotline Covid-19 untuk dilarikan ke rumah sakit rujukan. Beberapa protokol untuk isolasi mandiri, antara lain :

  • Tidak beraktifitas di luar rumah, tidak pergi bahkan sekalipun untuk belanja.
  • Tidak kontak dengan orang yang tinggal serumah, dalam arti harus berada di dalam kamar, dan siapapun tidak boleh masuk.
  • Wajib menggunakan masker dimanapun berada, bahkan ketika didalam kamar.
  • Gunakan perlengkapan terpisah, misalnya piring, sendok, gelas, bahkan tempat sampah pribadi.
  • Pantau kesehatan secara pribadi, dengan mengukur suhu sendiri dan mengamati gejala-gejala yang ada

Karantina merupakan pembatasan kegiatan yang sudah diterapkan dalam peraturan undang-undang. Karantina yang sering kita dengar saat ini adalah karantina wilayah, dimana adanya  pembatasan penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit atau terkontaminasi. Karantina wilayah seperti menerapkan sistem pembatasan pergerakan orang demi kepentingan kesehatan. Karantina wilayah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah pusat. Beberapa pertimbangan dalam mengadakan karantina wilayah juga harus dipertimbangkan, seperti  bentuk ancaman, efektifitas, pertimbangan ekonomi sosial, budaya, dan keamanan.

Sedangkan lockdown adalah melarang dan mengunci seluruh akses warga untuk keluar masuk wilayah tertentu karena situasi darurat dengan pengamanan yang ketat. Kebijakan lockdown harus disertai dengan jaminan keamanan dan kepentingan sosial untuk warga, seperti suplai makanan, kesehatan, pendidikan dan hal penting lainnya. Negara pun harus memikirkan resiko-resiko yang mungkin terjadi, jika lockdown diberlakukan, seperti resiko kredit, tingkat bunga, politik, inflasi dan risiko lainnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: