Kenali Gejala PCOS dan Penyebabnya

Scroll down to content

Sindrom Ovarium Polikistik atau yang dikenal juga dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah hormon androgen yang berlebih pada wanita dan terjadinya resistensi insulin. PCOS adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki banyak kista kecil pada indung telur atau ovarium. Ovarium atau indung telur adalah salah satu organ reproduksi yang terdapat di tubuh wanita. Setiap wanita mempunyai dua buah ovarium. Fungsi utama dari ovarium adalah menyimpan dan memproduksi sel telur. Beberapa jenis hormon, seperti estrogen dan progesteron, juga dihasilkan oleh organ ini.

Kista adalah benjolan-benjolan kecil yang berisi cairan. Setiap benjolan mengandung sel telur yang belum matang dengan sempurna. Masalah pada kesuburan, siklus menstruasi, penampilan, bahkan produksi hormon pria berlebih adalah beberapa kondisi yang mungkin akan dialami oleh penderita PCOS. Dalam kasus yang lebih serius, PCOS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan masalah pada berat badan dan fungsi jantung. PCOS adalah kondisi yang umumnya berkaitan dengan kadar hormon insulin yang berlebihan di dalam tubuh. Maka dari itu, PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah penyakit yang sering kali dikaitkan dengan risiko diabetes.

PCOS adalah penyakit yang dapat menyerang wanita dengan kesuburan yang normal. Sindrom ini dapat terjadi pada usia berapa saja setelah melewati masa pubertas di mana umumnya tanda-tanda dan gejala PCOS mulai berkembang, terutama ketika seseorang mengalami menstruasi untuk pertama kali. Usia paling umum di mana gejala PCOS pertama kali muncul adalah masa remaja akhir atau awal usia 20-an. Namun, PCOS adalah sindrom yang mungkin juga berkembang di lain waktu. Misalnya, ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis. Tanda-tanda dan gejala dari penyakit ini cukup bervariasi pada masing-masing penderita, misalnya :

  • Siklus menstruasi tidak teratur

Gejala yang paling umum dialami oleh penderita PCOS adalah siklus menstruasi yang tidak teratur, atau bisa jadi sangat jarang, terlalu lama, atau malah tidak terjadi sama sekali selama beberapa tahun (amenorrhoea). Kondisi ini berkaitan dengan menurunnya aktivitas ovulasi pada sistem reproduksi, sehingga dinding rahim tidak dapat meluruh. Sejumlah wanita dengan kasus sindrom ini mengalami menstruasi kurang dari 8 kali selama setahun.

·         Pendarahan berat

Pendarahan berat disebabkan dinding rahim membutuhkan waktu lebih lama untuk menumpuk dan meluruh, maka ketika penderita PCOS mengalami menstruasi, darah yang dikeluarkan akan lebih banyak dari perempuan pada umumnya.

·         Pertumbuhan rambut berlebih

Gejala lain dari PCOS adalah memiliki rambut berlebih pada wajah dan tubuh, seperti memiliki rambut wajah yang lebih tebal dan gelap. Selain itu, rambut berlebih juga dapat ditemukan pada dada, perut, dan punggung.

·         Muncul jerawat

Produksi hormon androgen yang berlebihan, dapat menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dari biasanya. Kondisi ini menyebabkan Anda berjerawat di area wajah, dada, hingga punggung bagian atas. Jadi, tak heran jika muncul banyak jerawat adalah salah satu gejala dari PCOS.

·         Perubahan mood

Pada penderita PCOS, tubuh menghasilkan kadar hormon yang tidak teratur, sehingga suasana hati atau mood penderita pun dapat berubah secara terus menerus. Kondisi ini berpotensi menyebabkan stres, bahkan depresi.

·         Gangguan kesuburan

Apabila tubuh tidak berovulasi dengan baik, kesuburan pun akan terdampak. Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak menghasilkan sel telur dengan cukup untuk dibuahi. Jika penderita kesulitan saat berupaya memiliki anak, hal tersebut bisa jadi adalah salah satu gejala PCOS.

Tanda-tanda dan gejala dari PCOS atau sindrom ovaroum polikistik yang ditunjukkan tubuh adalah tanda yang bervariasi. Terdapat beberapa kondisi yang memicu terjadinya sindrom ini, seperti :

·         Ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh

Wanita yang mengalami sindrom PCOS adalah wanita yang memiliki ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuhnya. Hormon tersebut adalah :

  • Hormon androgen

Salah satu perubahan hormon di dalam tubuh wanita yang berpotensi menyebabkan PCOS adalah perubahan hormon androgen.  Hormon androgen adalah hormon yang diproduksi oleh wanita dalam jumlah sedikit, sehingga menyebabkan proses ovulasi pada sistem reproduksi wanita terganggu.

  • Hormon testosteron

Salah satu hormon pria yang dihasilkan oleh wanita lainnya adalah testosteron yang juga berpotensi menyebabkan PCOS. Pasalnya, peningkatan hormon testosteron yang ditemukan pada wanita adalah salah satu kondisi yang berpotensi memicu terjadinya PCOS.

·         Luteinising hormone (LH)

Luteinising hormone (LH), yaitu hormon yang merangsang terjadinya ovulasi. Perubahan jumlah pada hormon ini adalah salah satu penyebab terjadinya PCOS. Hal ini disebabkan saat kadar hormon tersebut melebihi batas normal, hal tersebut dapat mengganggu fungsi ovarium dalam memproduksi sel telur.

·         Sex hormone-binding globulin / SHBG

SHBG adalah protein dalam darah yang terikat pada testosterone dan dapat mengurangi efek dari hormon tersebut.

·         Hormon prolaktin

Hormon prolaktin yang menstimulasi kelenjar payudara untuk memproduksi Air Susu Ibu (ASI) pada saat hamil, adalah hormon yang juga dapat memicu timbulnya PCOS jika jumlahnya berlebih.

·         Tingginya kadar insulin di dalam tubuh

Insulin adalah hormon yang mengatur bagaimana tubuh Anda mengubah glukosa di dalam darah menjadi energi. Apabila hormon insulin mengalami peningkatan di dalam darah, tubuh akan mengalami resistensi insulin. Kondisi ini adalah salah satu pemicu dari PCOS. Resistensi insulin adalah kondisi yang terjadi saat sel yang terdapat di otot, lemak, dan liver tidak merespon insulin dengan baik.

·         Inflamasi atau peradangan tingkat rendah

Peradangan erat kaitannya dengan resistensi insulin, salah satu pemicu dari peningkatan hormon androgen yang juga bisa memicu terjadinya PCOS.

Faktor yang mungkin akan meningkatkan risiko Anda mengalami PCOS, di antaranya adalah:

·         Usia

Usia adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami PCOS. Pasalnya, jika Anda adalah seorang wanita yang baru memasuki masa pubertas, atau Anda termasuk dalam golongan usia yang subur (15-44 tahun), peluang Anda untuk mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik menjadi jauh lebih besar.

·         Keturunan keluarga

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini adalah kondisi yang sering kali dikaitkan dengan faktor genetik atau keturunan.  Jadi, apabila Anda memiliki ibu, kakak perempuan, atau bibi yang menderita penyakit ini, risiko Anda untuk menderita penyakit yang sama pun lebih tinggi.

·         Berat badan berlebih atau obesitas

Berat badan yang melebihi batas normal atau obesitas dapat memengaruhi produksi insulin di dalam tubuh. Hal ini tentunya berisiko mengganggu fungsi indung telur dalam berovulasi dan meningkatkan kesempatan Anda untuk mengidap sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini.

PCOS dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan apabila tidak segera diatasi, atau diderita dalam jangka waktu panjang. Mulai dari diabetes, gangguan jantung, hingga kanker, berikut adalah komplikasi-komplikasi yang mungkin dapat terjadi:

·         Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari berbagai kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi-kondisi tersebut meliputi peningkatan kadar kolesterol, kadar gula darah, serta kenaikan tekanan darah.

·         Komplikasi pada kehamilan

PCOS juga dapat memicu terjadinya komplikasi pada kehamilan, bayi mungkin lahir secara prematur. Selain itu, kondisi lain yang mungkin dialami oleh wanita hamil yang mengalami PCOS adalah keguguran dan diabetes gestasional.

·         Stres berat

Perubahan hormon dan gejala-gejala seperti pertumbuhan rambut berlebih dapat berakibat buruk pada emosi penderita. Banyak pasien yang mengalami  sindrom ovarium polikistik ini yang berakhir dengan kondisi depresi dan kecemasan parah.

·         Kanker endometrium

Penyakit lain yang mungkin terjadi jika Anda mengalami sindrom ovarium polikistik atau PCOS adalah kanker endometrium. Hal ini disebabkan karena ovarium tidak berovulasi dengan baik, sehingga dinding rahim terus menebal dan tidak kunjung meluruh.

Tujuan dari pengobatan PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah untuk mengendalikan gejala-gejala dan mencegah pertumbuhan kista yang lebih parah di dalam indung telur. Tergantung pada gejala, perawatan dapat bervariasi.

·         Memperbaiki siklus menstruasi

Untuk mengatur siklus menstruasi, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan berikut, seperti Pil KB, Terapi progestin. obat untuk membantu proses ovulasi.

Perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi PCOS, adalah dengan :

  • Jaga berat badan yang sehat dengan makan makanan rendah karbohidrat olahan.
  • Olahraga juga dapat membantu tubuh mengatur insulin.
  • Jika Anda merokok, pertimbangkan untuk berhenti..

Sumber: diolah dari beberapa sumber

photo by Shutterstock

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: