Siklus Menstruasi Selalu Cepat, Waspada Gejala Kanker Rahim Pada Endomentrium

Scroll down to content

Di dalam rahim manusia memiliki dua lapisan utama yaitu endometrium dan myometrium. Endomentirum merupakan lapisan dalam sementara miometrium merupakan lapisan luar yang tebal, yang sebagian besar digunakan untuk melahirkan bayi. Kanker pada rahim dapat muncul baik pada endometrium atau miometrium. Kanker rahim kebanyakan berasal dari endometrium yang menyerang lapisan rahim bagian dalam. Kanker ini umumnya terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause atau sekitar umur 60-70 tahun. Ada dua tipe utama kanker endometrium, yaitu:

  • Kanker endometrium tipe 1, yang paling umum terjadi. Perkembangan sel kanker pada tipe ini terjadi secara perlahan (non-agresif) dan dapat terdeteksi sejak dini.
  • Kanker endometrium tipe 2, yang sifatnya lebih agresif, sehingga perkembangan dan penyebaran sel kanker terjadi lebih cepat

Penyebab kanker endometrium karena adanya ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh wanita. Kadar hormon progesteron yang  lebih rendah dibandingkan hormon estrogen dapat menyebabkan terjadinya penebalan lapisan rahim dan sel kanker dapat tumbuh seiring waktu. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium pada wanita, di antaranya adalah:

  • Obesitas.
  • Telah memasuki masa menopause.
  • Memasuki masa menstruasi di usia yang terlalu dini (<12 tahun) atau memasuki masa menopause lebih lambat dibandingkan wanita pada umumnya (>50 tahun).
  • Belum pernah hamil.
  • Menjalani terapi hormon tamoxifen, untuk penderita kanker payudara.
  • Menderita sindrom hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC).

Gejala kanker endometrium stadium awal yang paling sering terjadi adalah perdarahan pada vagina. Pendarahan vagina ditandai dengan:

  • Darah yang keluar selama menstruasi lebih banyak dan masa menstruasi lebih panjang (lebih dari 7 hari).
  • Muncul bercak darah di luar masa menstruasi.
  • Siklus menstruasi terjadi setiap 21 hari atau lebih cepat.
  • Perdarahan terjadi sebelum atau setelah berhubungan seksual.
  • Keputihan encer dan terjadi setelah memasuki masa menopause.
  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.

Kanker endometrium yang telah memasuki stadium lanjut akan menyebabkan gejala tambahan, seperti nyeri punggung, mual, dan kehilangan nafsu makan. Beberapa jenis pemeriksaan yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis kanker endometrium, yaitu:

  • Pemeriksaan panggul (pelvis). 
  • USG transvaginal. 
  • Histeroskopi. 
  • Biopsi endometrium
  • Dilatasi dan kuretase (dilation and curretage)

Jika kanker endometrium telah berada pada stadium lanjut, dan diduga telah menyebar ke organ lainnya, maka memerlukan pemeriksaan lanjutan antara lain dengan foto Rontgen, CT scan, PET scan, dan MRI, dan kolonoskopi. Terdapat empat stadium kanker endometrium, yaitu:

  • Stadium I – Kanker masih berada di dalam rahim.
  • Stadium II – Kanker sudah menyebar ke leher rahim.
  • Stadium III – Kanker sudah menyebar hingga ke luar rahim (kelenjar getah bening panggul), tetapi belum mencapai usus besar atau kandung kemih.
  • Stadium IV – Kanker sudah menyebar ke kandung kemih, usus besar, bahkan ke organ atau bagian tubuh lainnya.

Langkah pengobatan kanker endometrium umumnya ditentukan berdasarkan beberapa faktor, yaitu tingkatan stadium, kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan, tipe kanker endometrium dan lokasi dari kanker endometrium. Ada bebeberapa jenis pengobatan kanker endometrium. Di antaranya adalah :

  • Histerektomi, yaitu prosedur pengangkatan rahim. Namun, tindakan operasi ini menyebabkan pasien tidak dapat memiliki anak di kemudian hari.
  • Salpingo-oophorectomyyaitu prosedur pengangkatan indung telur dan saluran sel telur (tuba falopi). Jenis operasi ini juga menyebabkan pasien tidak dapat memiliki anak di masa depan.
  • Kemoterapi. Metode pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang dapat membunuh sel kanker dan mencegah penyebarannya. Jenis obat yang digunakan adalah cisplatin, carboplatin, doxorubicin, dan paclitaxel.
  • Radioterapi Eksternal,  dengan menggunakan mesin yang mengarahkan pancaran energi ke bagian tubuh yang terkena sel kanker.
  • Radioterapi internal, terapi radiasi dengan menempatkan bahan radioaktif di dalam vagina.
  • Terapi hormon. Terapi ini melibatkan penggunaan obat yang dapat memengaruhi kadar hormon dalam tubuh. Terapi hormon dilakukan terhadap pasien kanker endometrium stadium lanjut dan sel kanker telah menyebar hingga ke luar rahim. Ada dua jenis terapi hormon, yaitu meningkatan hormon progesteron untuk menghambat perkembangan sel kanker, misalnya dengan progestin dan menurunkan hormon estrogen untuk menghancurkan sel kanker yang bergantung pada estrogen untuk berkembang, misalnya dengan tamoxifen.

Komplikasi yang mungkin terjadi akibat kanker endometrium, di antaranya adalah:

  • Anemia, yang disebabkan perdarahan vagina.
  • Robekan (perforasi) pada rahim, yang mungkin muncul selama biopsi endometrium atau kuret.
  • Efek samping dari kemoterapi dan radioterapi, seperti mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, konstipasi, rambut rontok, serta muncul ruam.

Sebagian besar kanker endometrium tidak dapat dicegah, dapat diminmalisir resikonya, antara lain :

  • Lakukan pemeriksaan organ reproduksi secara rutin, seperti pap smear.
  • Menggunakan alat kontrasepsi oral setidaknya selama 1 tahun, dapat mengurangi risiko kanker endometrial.
  • Menjaga atau mempertahankan berat badan ideal, karena obesitas dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.
  • Olahraga secara rutin selama 30 menit setiap hari.

Sumber: diadopsi dari beberapa sumber lainnya

Photo by NovaGrid

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: