Inilah Cara Menghadapi Emotional Eating

Scroll down to content

Pernakah kamu merasa ketika sedang kesal, pelarian kamu adalah ke makanan? Jika ya, mungkin kamu sedang mengalami emotional eating. Emotional eating merupakan dorongan untuk makan berlebihan yang biasanya dipicu oleh faktor emosi yang tidak stabil misalnya marah atau sedih atau rasa bosan akibat rutinitas. Orang dengan Emotional eating merasa bahwa dengan makan dapat menenangkan pikiran dan melepaskan stres.

Maka dari itu, Emotional eating juga disebut sebagai Lapar Emosi. Lapar Emosi biasanya dihubungkan dengan perasaan seperti kesepian, sedih, gelisah, takut, marah, bosan, atau stres. Orang yang lapar emosi berbeda dengan orang yang lapar fisik.

Lapar fisik tidak dirasakan secara tiba-tiba, misalnya ketika tidak makan siang akan terasa lapar. Mereka dapat menunggu waktu yang tepat untuk makan, misalnya menunggu malam hari untuk menikmati hidangan malam. Selain itu, orang dengan lapar fisik biasanya juga mempertimbangkan makanan apa yang akan mereka makan, dan akan berhenti makan bila sudah kenyang. Kebalikannya dengan lapar emosi, orang yang lapar emosi cenderung lapar secara dadakan dan harus makan saat itu juga untuk memuaskan emosi.

Biasanya orang yang lapar emosi memilih makanan manis, kalori dan tinggi karbohidrat. Misalnya, es krim, biskuit, cokelat, makanan ringan, kentang goreng, pizza, hamburger, dan lainnya. Nah, kamu termasuk yang mana nih? Mudah-mudahan kamu bukan salah satu orang yang lapar emosi yah! Jika iya, maka kamu perlu melakukan sesuatu untuk menghentikannya.

Orang yang lapar emosi, tubuhnya mengalami peningkatan hormon kortisol sebagai respon dari stres, bosan atau marah. Di saat itu juga, nafsu makan jadi besar karena adanya upaya dari tubuh dalam menyediakan energi yang dibutuhkan untuk merespon stres tersebut. Jika hal ini berlangsung lama dan  dilakukan secara terus-menerus, tidak menutup kemungkinan emotional eating dapat memengaruhi berat badan, dan tentunya faktor kesehatan. Pola makan emosional ini dapat terbentuk secara tidak langsung sedari kecil karena kebiasaan dari orang tua maupun orang terdekat.

Nah, untuk mengatasi hal ini, usahakan kamu betul-betul mengetahui kondisi tubuhmu, apakah benar-benar lapar atau tidak. Jika terasa ingin makan hanya karena emosi sesaat, coba alihkan perhatianmu dengan melakukan suatu aktifitas seperti mendengarkan musik, menyanyi, menulis, membaca, olahraga, dan lainnya. setidaknya hal tersebut dapat mengurangi kebiasaan emotional eating. Ketika sudah terbiasa, perlahan-lahan rasa emotional eating tersebut dapat berkurang dan hilang.

Photo by ShutterStock

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: