Munculnya Gunung Anak Krakatau Setelah Letusan Maha Dahsyat 1883

Scroll down to content

Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi meletus pada Jumat (10/4/2020) malam. Terjadinya erupsi disertai hamparan abu vulkanik hingga setinggi kurang lebih 657 meter di atas permukaan laut pada pukul 22.35 WIB. Tingkat aktifitas Gunung Anak Krakatau berada pada level waspada dan masyarakat dilarang untuk mendekati kawah. Meskipun demikian, letusan Gunung Anak Krakatau ini masih tergolong dalam skala kecil karena merupakan salah satu letusan eksplosif. Dimana letusan ini menandakan semburan biasa tanpa adanya dentuman keras. Gunung Anak Krakatau ini muncul setelah kejadian letusan Gunung Krakatau.

Kejadian ini mengingatkan Indonesia pada bencana letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 silam. Ledakan maha dahsyat tersebut mampu membuat orang-orang yang berada disekitarnya ralam radius 10 kilometer menjadi tuli. Bagaimana tidak, gemuruh dan suara letusan Krakatau terdengar sampai radius lebih dari 4.600 km, dan terdengar hingga sepanjang Samudra Hindia. Bahkan gemuruhnya terdengar hingga Perth, Australia yang jaraknya 4.500 kilometer. Letusan ini menjadi salah satu bencana besar yang pernah melanda dunia dan letusan paling keras yang pernah terdengar di muka Bumi.

The Guiness Book of Records mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah. Dampak dari letusan gunung ini terjadinya tsunami yang menelan korban jiwa lebih dari 36 ribu jiwa. Tidak hanya itu, kapal-kapal di perairan Afrika sampai bergoyang di lautan. Abu vulkanik yang dikeluarkan oleh karena letusan tersebut mencapai ketinggian 813 meter diatas permukaan laut. Saking tingginya abu vulkanik tersebut sampai ke atmosfer, bulan yang bersinar berwarna putih pun berubah warna menjadi hijau. Tidak hanya bulan, bahkan matahari pun berubah warna menjadi keunguan di langit. Hal ini terjadi tahunan pasca terjadinya erupsi.

Perubahan atmosfer ini tidak hanya bisa dilihat di Indonesia, melainkan di negara-negara Eropa dan Amerika. Abu vulkanik dahsyat tersebut mengelilingi angkasa dan bumi. Akibatnya, terjadi penurunan suhu global menjadi lebih dingin selama hampir lima tahun setelahnya. Setelah ledakan hebat ini terjadi, pulau-pulau kecil di sekitar Krakatau musnah. 40 tahun kemudian, muncullah Gunung Anak Krakatau. Tahun 1927, ada kemunculan gunung api di permukaan laut, yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Anak Gunung tersebut tumbuh dari tahun ke tahun, dan setiap pertumbuhannya bertambah tinggi dari 4 hingga 6 meter, hingga saat ini. Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu dari 100 Gunung berapi di dunia yang dipantau oleh NASA melalui satelit Earth Observing-1.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: