Kartini, Bukan Hanya Sekedar Kebaya

Scroll down to content

Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri” – R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini merupakan sosok perempuan yang berjuang memajukan kesejahteraan kaum perempuan pribumi. 21 April selalu diperingati rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini, karena pada tanggal ini pula R.A. Kartini dilahirkan.  Hari Kartini diperingati untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini. Pada jaman dahulu,  hak-hak wanita selalu dinomorduakan. R.A. Kartini berjuang untuk mendapatkan emansipasi para wanita agar diakui oleh negara, sama seperti hak kaum laki-laki. Tahun 2020 ini perayaan karena sedikit berbeda, dikarenakan negeri tengah sibuk melawan pandemi virus corona.

Biasanya, perayaan Hari Kartini di setiap wilayah memang berbeda-beda. Berikut adalah tradisi di Hari Kartini yang biasanya dimeriahkan dengan acara parade pakaian adat dan pergelaran busana nasional. Untuk memeriahkan Hari Kartini, beberapa sekolah biasanya menggerakan para siswa untuk menggunakan pakaian adat nusantara, sedangkan para siswi mengenakan kebaya dari berbagai belahan nusantara. Tak jarang, biasanya perayaan ini dilakukan di sepanjang jalan bahkan ada pula yang membawa bendera merah putih. Tidak hanya di sekolah loh, beberapa pegawai swasta dan negeri pun biasanya mengenakan pakaian adat untuk mengenang R.A. Kartini. Tidak hanya di lingkungan sekolah dan perkantoran, biasanya pusat perbelanjaan juga mengikuti kegiatan yang sama. Misalnya, beberapa mall mengadakan fashion show dengan menampilkan wanita dengan balutan kebaya nusantara. Meskipun untuk tahun ini acara ini haris ditiadakan, semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa menyaksikan pergelaran busana cantik yang digunakan para wanita Indonesia.

R.A. Kartini merupakan keturunan dari kelas bangsawan Jawa dan keluarga ulama, dan hidup dalam lingkungan keluarga poligami. Dari kecil, R.A. Kartini sudah gemar membaca puluhan buku dan surat kabar. Tidak hanya cerdas, R.A. Kartini  juga fasih berbahasa Belanda. “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan karya R.A. Kartini yang berasal dari surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini ke Eropa yang dikumpulkan oleh temannya yang bernama J.H. Abendanon. Awalnya karya tersebut bernama “Door Duisternit tot Licht” atau “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Pada tahun 1938, kompilasi dari surat-surat tersebut dirilis di Indonesia oleh sastrawan Armijn Pane dan judulnya berubah menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sayangnya, R.A Kartini harus meninggal di usia belia, yaitu 25 tahun. Beliau meninggalkan satu anak bernama Raden Mas Soesalit Djojodiningrat. R.A Kartini tidak hanya dikenang di Indonesia. Namanya digunakan sebagai nama di suatu jalan di negara Belanda.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: