Atresia Ani, Cacat Bawaan Karena Gangguan Perkembangan Janin

Scroll down to content

Atresia ani atau disebut juga anus imperforata adalah salah satu jenis cacat lahir yang terjadi saat usia kehamilan mencapai 5-7 minggu atau kelainan kongenital atau bawaan yang terjadi akibat gangguan saat perkembangan janin. Atresia ani umumnya diketahui pada pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan ketika bayi lahir. Dokter akan memeriksa seluruh bagian tubuh bayi baru lahir, dari kepala sampai dengan kaki. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan bentuk rektum (bagian akhir usus besar) sampai lubang anus tidak sempurna. Atresia ani umumnya dikategorikan sebagai berikut:

  • Kelainan di tingkat bawah yakni berupa lubang anus yang menyempit atau sama sekali tertutup akibat usus rektum yang masih menempel pada kulit. Lubang anus yang tertutup umumnya disertai dengan cacat lahir lain, seperti gangguan jantung, masalah pada sistem saraf pusat, atau anomali pada tangan dan kaki.
  • Kelainan di tingkat atas yaitu posisi usus besar yang terletak di rongga panggul bagian atas dan terbentuknya fistula yang menghubungkan rektum dan kandung kemih, uretra, atau vagina. Fistula merupakan terowongan abnormal yang muncul antara dua saluran normal seperti antara pembuluh darah, usus, atau organ tubuh.
  • Lubang posterior atau kloaka yang persisten yakni kelainan yang menyebabkan rektum, saluran kemih, dan lubang vagina bertemu pada satu saluran yang sama.

Pada kondisi normal, lubang anus, saluran kemih, dan kelamin janin terbentuk pada usia kehamilan tujuh hingga delapan minggu melalui proses pembelahan dan pemisahan dinding-dinding pencernaan janin. Gangguan pada masa perkembangan janin inilah yang akan menyebabkan atresia ani. Adanya keterlibatan faktor keturunan atau genetika di balik terjadinya cacat lahir ini. Bayi yang lahir dengan kondisi atresia ani umumnya memiliki gejala dan tanda sebagai berikut:

  • Lubang anus sangat dekat dengan vagina pada bayi perempuan.
  • Lubang anus tidak di tempat yang semestinya, atau tidak terdapat lubang anus sama sekali.
  • Tinja pertama tidak keluar dalam jangka waktu 24-48 jam setelah lahir.
  • Tinja keluar dari vagina, pangkal penis, skrotum, atau uretra.
  • Perut membesar.

Berbagai macam faktor yang bisa meningkatkan risiko atresia ani pada bayi, antara lain :

  • Atresia ani terjadi lebih banyak pada bayi laki-laki dibandingkan bayi perempuan.
  • Ibu menggunakan steroid inhalers selama masa kehamilan.
  • Memiliki cacat lahir lainnya, seperti kelainan pada saluran urine dan ginjal, kelainan pada tulang belakang, kelainan pada saluran pernapasan, kelainan pada kerongkongan, kelainan pada lengan dan tungkai, Sindrom Down, penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschsprung, atau Atresia duodenum (kelainan pada usus halus).

Bayi yang tidak memiliki lubang anus akan diberi asupan melalui infus. Jika ada fistula yang terbentuk pada saluran kemih, dokter akan memberikan antibiotik. Agar saluran pencernaan berjalan dengan normal, atresia ani harus dikoreksi dengan tindakan operasi. Namun penentuan saat yang tepat kapan dilakukan operasi berbeda pada setiap bayi, tergantung dari jenis dan kerumitan bentuk atresia ani yang terjadi serta kondisi kesehatan bayi sendiri, mengingat setengah dari penderita atresi ani juga memiliki kelainan kongenital lainnya. Keadaan yang mengancam nyawa akan ditangani terlebih dahulu. Bila tindakan operasi perbaikan belum dapat dilakukan, dokter akan membuat kolostomi, yaitu pembuatan lubang (stoma) di dinding perut sebagai saluran pembuangan sementara. Lubang ini akan disambungkan dengan usus, dan kotoran yang keluar dari stoma akan ditampung dalam sebuah kantung yang dinamakan colostomy bag.

Jenis operasi perbaikan yang dilakukan tergantung dari jenis atresia ani. Sebagai contoh, dokter akan melakukan tindakan yang dinamakan perineal anoplasty, yaitu menutup fistula yang terhubung dengan saluran kemih atau vagina, dan akan membuat lubang anus di posisi yang seharusnya. Keberhasilan tindakan operasi dalam memperbaiki atresia ani dapat dikatakan baik, walaupun terkadang tidak hanya membutuhkan satu kali tindakan operasi.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi setelah dilakukan tindakan operasi perbaikan, antara lain:

  • Konstipasi. Konstipasi dapat diatasi dengan diet tinggi serat. Obat pencahar juga terkadang diberikan untuk mencegah menumpuknya tinja di dalam usus, yang akan membuat usus melebar dan mengakibatkan gerakannya menjadi berkurang.
  • Inkontinensia tinja atau urine. Inkontinensia tinja atau urine dapat terjadi, walaupun operasi berjalan mulus dan tanpa komplikasi.
  • Stenosis anus. Anus yang baru dapat membentuk jaringan parut dan menyempit (stenosis). Bila terjadi, kondisi ini akan membutuhkan tindakan operasi lanjutan. Untuk mencegah stenosis anus, dokter akan melakukan dan mengajarkan kepada orang tua pasien untuk melakukan tindakan meregangkan atau melebarkan anus yang baru secara berkala (dilatasi anus).

Selain komplikasi yang terjadi pasca operasi, komplikasi juga dapat terjadi sebelum dilakukan tindakan operasi, antara lain robekan (perforasi) usus, atau infeksi saluran kemih apabila terdapat fistula ke saluran kemih.

Sumber : HaloDoc

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: