Diklaim Dapat Tingkatkan Imunitas, Peneliti IPB Sebut Gaharu Berpeluang Cegah COVID-19

Scroll down to content

Para peneliti di dunia kini sedang berpacu dengan waktu untuk sesegera mungkin menemukan obat untuk menangkal virus COVID-19. Hal itu pula yang dilakukan peneliti di Indonesia, Jonner Situmorang.

Peneliti Gaharu dan Minyak Atsiri dari SEAMEO BIOTROP IPB ini meyakini, tanaman Gaharu berpeluang membantu pencegahan dan mendukung pengobatan bagi penderita COVID-19.

Menurut Jonner, kayu gaharu yang mengandung senyawa atau minyak gaharu sudah dikenal sejak abad 18 di Tiongkok.

Dalam riset yang dilakukan Jonner, Gaharu banyak digunakan sebagai obat berbagai penyakit seperti rematik, obat penguat selama kehamilan, dan sesudah melahirkan, cacar, malaria, sakit perut, obat asma, antibiotik untuk TBC, tifus dan diare, obat hepatitis, liver, dan beberapa penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus.

Jonner menyebut, pembentukan minyak gaharu memang sangatlah unik, dan berbeda dengan semua jenis tanaman penghasil minyak atsiri lainnya.

Pada kondisi sehat, pohon gaharu tidak bisa menghasilkan kandungan minyak. Minyak gaharu dihasilkan oleh pohon, hanya apabila pohon gaharu sakit secara spesifik.

Dunia penelitian meyakini bahwa konsorsium mikroba meliputi berbagai jenis jamur, bakteri, dan virus yang kesesuaiannya sangat spesifik mendorong semakin terbentuknya minyak gaharu pada pohon.

“Jadi sebenarnya di setiap pohon gaharu, belum tentu mengandung minyak gaharu. Hanya saat pohon itu menghadapi serangan, dia akan memunculkan minyak tersebut sebagai media pertahanan,” ujar Jonner dikutip dari Pikiran Rakyat.

Menurut Jonner, serangan konsorsium mikroba akan merangsang pohon gaharu untuk menghasilkan senyawa gaharu sebagai respons pertahanan inang.

Serangan patogen yang berlangsung terus menerus dalam tenggang waktu yang lama akan menyebabkan pohon gaharu hidup merana lalu mati.

“Di balik misteri itu, bangkai kayu gaharu diyakini sudah mengandung minyak gaharu yang banyak dan berkualitas.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, pohon gaharu digolongkan mulia, artinya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, khusunya pada ritual agama dan pengobatan,” kata Jonner.

Untuk menciptakan minyak gaharu, para peneliti bisa melakukan rekayasa dengan memberikan patogen ke pohon gaharu.

Biasanya, pohon yang layak untuk memproduksi gaharu adalah pohon yang memiliki volume kayu dengan umur 7 tahun.

“Sebenarnya pohon usia 1 tahun juga sudah bisa dibuat sakit, tetapi untuk tujuan bisnis, dipilih yang lebih tua, karena mengarah pada kekuatan bunga dan buah,” ucap Jonner.

Sejauh ini, pohon gaharu memang tergolong langka. Harga minyak gaharu pun relatif cukup mahal.

Dalam dunia perdagangan, inti gaharu sering disebut sebagai aloeswood, eaglewood, agarwood, damar wangi, atau resin.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengkategorikan pohon ini sebagai pohon terancam punah.

Namun demikian, lantaran banyaknya khasiat dari tumbuhan tersebut, gaharu banyak dibudidayakan di kebun biasa.

“Minyak gaharu memang cukup mahal, tergantung kualitasnya ada yang Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta, kalau kualitas super ada yang sampai Rp 70 hingga Rp 100 juta per kg,” kata Jonner.

Sumber : Pikiran Rakyat
Foto : Agrotani

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: