Histiositosis Sel Langerhans, Kanker Yang Dinilai Sangat Langka Yang Dapat Terjadi Pada Anak

Scroll down to content

Histiositosis Sel Langerhans (Langerhans Cell Histiocytosis)  atau yang sering dikenal dengan singkatan LCH merupakan kondisi langka yang ditandai adanya peningkatan jumlah sel histiosit yang mirip dengan sel Langerhans yang terdapat di berbagai jaringan atau organ. Sel histiosit merupakan bagian dari sistem imun yang berfungsi untuk memakan sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh dan berperan sebagai pembawa antigen, yaitu bahan atau zat yang dapat memicu terbentuknya antibodi. Kondisi ini sangat langka, 1 : 200.000 anak menderita Histiositosis, yang sering terjadi pada usia anak dibawah 2 tahun.

Ketika sel Histiositosis tersebut meningkat jumlahnya, kondisi ini dapat menyerang berbagai jaringan tubuh, seperti limpa, paru-paru, hati, sumsum tulang.dimana sel-sel kekebalan tubuh secara keliru menyerang tubuh. Pada akhirnya sel kekebalan yang salah akan membentuk tumor yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh termasuk tulang, tengkorak dan daerah lainnya. Gejala LCH dapat dibedakan berdasarkan organ yang terkena, diantaranya:

  • Tulang

Nyeri pada tulang, baik saat beraktivitas maupun beristirahat, namun bisa saja tidak terdapat nyeri. Lokasi yang paling umum adalah tengkorak, tulang paha, dan tulang rusuk, dan mata yang menonjol atau proptosis.

  • Kulit

Kulit dan membran mukosa muncul ruam berupa bercak, bentol, atau memar. Ruam dapat dijumpai pada badan, perut, kulit kepala, dan anggota gerak. Kulit kepala dapat menjadi bersisik. Apabila mengenai telinga, maka dapat keluar cairan dari telinga, atau memar pada kuku. Pada membran mukosa, dapat ditemukan borok dan perdarahan di mukosa, misalnya pada gusi, langit-langit mulut, dubur, dan vagina. Pada bayi baru lahir, ruam kulit dapat menghilang sendiri.\

  • Otak

LCH pada otak dapat menimbulkan gejala neurologis, yang meliputi perubahan kecerdasan, perubahan perilaku, pandangan kabur, gemetar (tremor), berkurangnya koordinasi otot (ataksia), gangguan pengucapan bunyi bahasa (disartria), gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja (nistagmus), dan kelumpuhan saraf kepala.

  • Paru-paru

LCH yang menyerang paru dapat menimbulkan keluhan batuk tidak berdahak, sesak napas, nyeri dada khususnya ketika menarik napas. LCH paru sering terjadi pada orang dewasa perokok berusia 20-40 tahun.

Kelompok dengan risiko rendah merupakan LCH yang menyerang kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan kelenjar hipofisis, sementara kelompok dengan risiko tinggi melibatkan hati, limpa, paru, dan sumsum tulang. Pengelompokan berdasarkan risiko ini bertujuan untuk menentukan pengobatan yang diberikan. Umumnya pengobatan berlangsung selama 6-12 bulan. Pengobatan dapat berupa bedah eksisi, radioterapi, kemoterapi, atau terapi kombinasi. Pada umumnya, LCH dapat sembuh sendiri, namun risiko kematian lebih tinggi apabila penyakit ini mengenai paru-paru. LCH di Indonesia sendiri terjadi sangat-sangat langka.

Sumber: Kankere

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: