Cermat dan Amati Ragam Gejala Keracunan Makanan

Scroll down to content

Keracunan makanan kerap terjadi saat seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, rusak, atau mengandung racun. Dengan indikasi mual, muntah, dan diare, ada beberapa gejala lain dari keracunan makanan yang perlu diketahui.

Bakteri, virus, dan parasit menjadi tiga penyebab besar terjadinya keracunan makanan. Patogen-patogen itu dapat ditemukan di hampir semua makanan yang dikonsumsi.

Suhu tinggi saat proses pengolahan atau memasak biasanya dapat membunuh patogen yang ada dalam makanan. Makanan yang dikonsumsi secara mentah menjadi sumber keracunan makanan yang paling umum.

Mengutip Healthline, secara statistik, hampir semua orang akan mengalami keracunan makanan setidaknya sekali dalam hidup.

Walau demikian, beberapa kelompok tercatat berisiko lebih tinggi mengalami keracunan makanan. Orang dengan penyakit autoimun berisiko mengalami komplikasi akibat keracunan makanan. Ibu hamil, anak-anak, dan orang lanjut usia juga masuk ke dalam kelompok paling berisiko.

Gejala Keracunan Makanan
Banyak kasus keracunan makanan tak terdeteksi dengan baik. Kasus keracunan makanan umumnya hadir dengan sejumlah gejala khas.

Gejala paling umum di antaranya:

  • diare
  • mual
  • muntah
  • nyeri perut

Gejala-gejala ini umumnya muncul secara mendadak. Lamanya waktu masa hingga gejala mulai muncul juga bervariasi, mulai dari 1 jam hingga 28 hari. Gejala diare umumnya akan sangat menonjol pada kasus keracunan makanan yang disebabkan virus. Sementara pada infeksi bakteri, diare umumnya akan disertai dengan darah.

Ada juga beberapa tanda lain yang perlu diketahui, seperti:

  • kehilangan selera makan
  • demam
  • tubuh menggigil

Keracunan makanan menimbulkan gejala yang menjadi tanda bahaya, di antaranya:

  • diare lebih dari tiga hari
  • demam lebih tinggi dari 38,5 derajat Celcius
  • kesulitan melihat atau berbicara
  • gejala dehidrasi parah, termasuk mulut kering dan jarang buang air kecil
  • urine berdarah

Sumber : CNN Indonesia

Foto : Shutterstock

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: