#23JuliWaspadaCacing Ketahui Penyebab Cacingan Pada Anak-Anak dan Dewasa

Scroll down to content

cacingan masih menjadi ancaman serius bagi anak Indonesia  Sudah sejak belasan tahun lalu, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk mencanagkan Hari Waspada Cacing yang jatuh setiap tanggal 23 Juli. Hari Waspada Cacing ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya orang tua dan anak serta pendidik terhadap ancaman bahaya penyakit infeksi karena cacing. Cacingan merupakan penyakit yang paling sering diremehkan karena dianggap penyakit biasa. Tanpa diketahui, cacing dapat terus berkembang biak dalam tubuh dan berpengaruh pada pertumbuhan dan kesehatan manusia, terutama pada anak-anak. Hal ini mendorong dilaksanakannya Hari Waspada Cacing untuk mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat agar lebih menyadari bahaya cacingan.

Dilansir dari CNN Indonesia, berikut adalah beberapa jenis cacing yang terdapat di perut anak, yang dapat mengambil nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh kita dan menimbulkan kerusakan pada lapisan usus , seperti :

  • Cacing Kremi

Cacing kremi atau Enterobius vermicularis jadi yang paling umum menginfeksi anak secara tidak sengaja, seperti saat makan tapi belum membersihkan tangan. Secara tidak sengaja, telur cacing tertelan dan langsung menuju usus halus, menetas, menyerap sari-sari makanan, dan menaruh lebih banyak telur di anus. Ini-lah yang menyebabkan anak kerap menggaruk anus, bahkan cacing kremi juga dapat dilihat pada feses.

  • Cacing Gelang

Cacing gelang atay Ascaris lumbricoides dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang kurang terjaga kebersihannya. Biasanya mereka yang terkena jenis cacing ini hanya akan mengalami kram perut dan muntah-muntah. Tidak hanya itu, cacing pun bisa berkeliaran ke organ lain hingga mengakibatkan infeksi pada liver, pankreas, hingga paru-paru.

  • Cacing Tambang

Cacing tambang dapat memasuki tubuh manusia secara mandiri melalui perantara kulit kaki , lalu mengikuti aliran darah dan menginfeksi organ tubuh seperti paru-paru dan jantung. Umumnya, cacing tambang akan melekat pada usus  dan menyerap nutrisi makanan. Akibatnya, seseorang akan mengalami diare, nyeri perut, mual, demam, serta ditemukan darah pada feses.

  • Cacing Pita

Infeksi cacing pita disebabkan oleh konsumsi daging sapi, babi atau daging ikan yang tidak dimasak sempurna. Cacing ini akan menempel pada dinding usus dan bertahan hingga tumbuh sepanjang 25 meter. Seseorang yang mengalami cacingan pita ini akan otomatis kehilangan nafsu makan, serta berat badan menurun. Saat gejala makin parah, cacing menyebabkan kerusakan organ pada jaringan.

Untuk mengatasi masalah cacingan ini, perlu juga didukung dengan lingkungan dan sanitasi yang baik agar anak-anak bisa terlindungi, seperti menjaga kebersihan diri, dengan mencuci tangan sebelum makan,  menjaga kebersihan makanan dengan mencuci terlebih dahulu seluruh sayuran dan buah yang akan masuk ke dalam tubuh, mencuci dan memasak daging hingga matang sempurna, serta  menjaga kebersihan di lingkungan sekitar kita untuk mencegah cacingan. Cacingan tidak hanya dialami oleh anak-anak, melainkan juga dapat dialami oleh orang dewasa sekalipun.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: