60 Persen Penyakit Diakibatkan Kualitas Udara yang Buruk

Scroll down to content

Hasil studi menunjukkan Indonesia berada di posisi ke-9 negara paling terpolusi di dunia.

Laporan Air Quality Life Index (AQLI) dari Energy Policy Institute at the University of Chicago (EPIC) menemukan, kualitas udara saat ini bisa memangkas angka harapan hidup masyarakat Indonesia hingga dua tahun.

Sejumlah wilayah di Indonesia bahkan bisa kehilangan angka harapan hidup yang besar jika kualitas udara tak juga diperbaiki. DKI Jakarta, misalnya, memiliki tingkat polusi enam kali lebih tinggi dari batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jika tak diperbaiki, penduduk DKI Jakarta akan kehilangan harapan hidup hingga 4,8 tahun.

Sumatra Selatan menjadi provinsi paling tercemar di Indonesia. Pencemaran udara di Sumsel bisa membuat penduduk kehilangan harapan hidup hingga 5,1 tahun.

Sementara tingkat polusi udara di Jawa Barat dan Banten bisa memotong angka harapan hidup hingga 3,5 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Ilmu Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia, Profesor Budi Haryanto menegaskan kualitas udara sangat berpengaruh terhadap angka harapan hidup masyarakat. Sekitar 60 persen penyakit kronis dipicu oleh kualitas udara yang buruk.

“[Penyakit yang timbul] lewat hidung itu 60 persen, istilahnya seperti itu,” ungkap Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan, kualitas udara menjadi faktor terbesar untuk menjaga kesehatan masyarakat yang jelas sangat berkaitan dengan angka harapan hidup. “Kualitas udara [buruk] bisa berakibat pada penyakit akut maupun kronis,” cetus Budi.

Penyakit akut adalah penyakit yang bisa diatasi dengan cepat (kurang dari 6 bulan). Penyakit akut umumnya terjadi relatif singkat atau menyerang dalam waktu cepat.

Sedangkan penyakit kronis umumnya terjadi selama lebih dari 6 bulan. Semakin lama, penyakit akan terus berkembang secara perlahan. Tak heran jika penyakit kronis terkadang sulit didiagnosis atau disembuhkan.

“Penyakit akut misalnya ISPA, asma. Kalau penyakit kronis berarti isinya misalnya material bahan kimia, asap kendaraan bermotor, asap industri, memicu penyakit yang sifatnya kronis, menimbulkan komorbiditas, lalu kematian dini atau kematian sebelum waktunya,” ujar Budi.

Sedangkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 7 juta kasus kematian di dunia disebabkan oleh polusi udara pada setiap tahunnya. Hal ini jelas menjadi alarm bagi penduduk Bumi untuk tetap waspada pada ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara.

“Dari kabut asap yang memenuhi perkotaan hingga asap pembakaran rumah tangga, polusi udara merupakan ancaman besar bagi kesehatan,” menurut WHO.

Gabungan pencemaran udara luar dan dalam ruang menyebabkan kematian prematur. Sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronis, infeksi saluran pernapasan akut, dan kanker paru-paru.

Sumber : CNN

Foto : Shutterstock

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: