Ilmuwan Temukan Masker Tertentu Meningkatkan Risiko Terinfeksi Covid-19

Scroll down to content

Para ilmuwan akhirnya melakukan tes kepada 14 jenis masker wajah. Dari hasil penelitian itu, penelitian menemukan bahwa beberapa di antaranya justru dapat meningkatkan risiko infeksi virus corona Covid-19.

Para peneliti di Duke University di North Carolina mempelajari mulai dari alat pelindung yang digunakan oleh dokter hingga bandana dan masker rajutan. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa masker terbaik untuk mencegah virus corona Covid-19 adalah masker N95 yang digunakan oleh para tenaga kesehatan profesional di rumah sakit. Mereka menjadi masker yang menempati posisi paling aman atas dalam penelitian ini.

Para peneliti menemukan bahwa masker tersebut dapat bekerja dengan baik untuk menghentikan penularan virus melalui tetesan pernapasan terutama saat berbicara. Selain itu masker terbaik kedua yang efektif mencegah penularan Covid-19 adalah masker bedah tiga lapis dan masker yang terbuat dari bahan katun atau kain yang dapat dibuat di rumah.

Mereka dinilai masih bekerja dengan baik dalam menghentikan penyebaran virus corona yang mematikan. Meski demikian ada beberapa masker yang justru memiliki performa buruk yang ditemukan selama penelitian.

Melansir dari The Sun, Selasa (11/8/2020), masker yang kerap dikenakan pada leher terbukti tidak efektif untuk menghentikan transmisi Covid-19. Masker ini sering digunakan para pelari dan dinilai lebih banyak menghasilkan tetesan pernapasan karena bahan yang digunakan dapat memecah tetesan besar menjadi partikel yang lebih kecil yang kemudian menyebar lewat udara.

Masker terburuk selanjutnya adalah yang terbuat dari rajutan serta bandana. Kedua jenis masker ini dianggap tidak banyak memberikan perlindungan. Martin Fischer yang merupakan salah satu penulis penelitian tersebut mengatakan bahwa masker leher sebenarnya meningkatkan risiko infeksi Covid-19.

“Kami sangat terkejut menemukan bahwa jumlah partikel yang diukur dengan masker leher sebenarnya melebihi jumlah partikel yang diukur tanpa mengenakan masker apapaun. Kami ingin menekankan bahwa ingin mendorong masyarakat untuk menggunakan masker. Tapi kami ingin mereka menggunakan masker yang benar-benar berfungsi,” terang Fischer.

Tes yang dilakukan para peneliti itu juga melibatkan kotak hitam yang dilengkapi laser dan kamera ponsel. Pemakai masker kemudian akan berbicara di dalam kotak ke arah laser dan tetesan pernapasan (Droplet) kemudian akan direkam oleh kamera.

Jumlah tetesan pernapasan itu kemudian dihitung menggunakan algoritma computer. Fischer mengatakan tes tersebut relatif sederhana dan dapat digunakan oleh perusahaan pembuat masker wajah.

“Ini adalah alat visual yang sangat kuat untuk meningkatkan kesadaran bahwa masker yang sangat sederhana. Seperti masker katun atau kain buatan sendiri ini, sangat efektif untuk menghentikan sebagian besar tetesan pernapasan ini. Perusahaan dan produsen dapat menyiapkan ini dan menguji desain masker mereka sebelum memproduksinya, yang juga akan sangat berguna,” tuntasnya.

Sumber : Okezone
Foto : Reuters/Asiaone.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: